Dental Semen

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Pada awal abad ke 20, material kedokteran gigi yang digunakan sebagai retensi dan marginal seal pada protesa-protesa seperti inlays, onlays, mahkota, dan jembatan gigi hanyalah zinc oksida euglenol dan zinc fosfat semen. Pada abad ke 20,material yang dapat digunakan dalam menempelkan protesa pada gigi hanya semen,oleh karena itu proses memperbaiki protesa dengan menempelkan protesa pada gigidisebut sementasi. Namun menjelang akhir abad ke 20 mulai bermunculan variasi-variasi material kedokteran gigi yang bersifat adhesif. Pada akhir abad ke 20 bermuncuan variasi-variasi semen kedokteran gigi seperti zinc polikarboksilat, glassionomer, dan resin modified glass-ionomer semen. Dalam perkembangannya semen kedokteran gigi tidak hanya digunakan dalam menempelkan protesa pada gigi, oleh karena itu proses menempelkan pada gigi disebut luting bukan lagi sementasi.

Semen gigi yang disiapkan untuk digunakan dalam pelapisan restorasi tidak langsung pada gigi disebut luting. Sebuah survei tahun 2001 menunjukkan bahwa banyak dokter sekarang menggunakan resin modified glass ionomer semen sebagai bahan luting terutama didasarkan pada kemudahan penggunaan, retensi yang baik supaya tidak menimbulkan sensivitas pascaoperasi.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Luting, Basis, Cavity Liners, dan Varnishes

Luting

            Bahan luting merupakan suatu bahan yang kental yang diletakkan diantara struktur gigi dengan protesa untuk melekatkan keduanya, yang mengeras melalui reaksi kimia. Kata luting mengimplikasikan penggunaan suatu bahan yang dapat dibentuk untuk menutup ruang atau untuk menyemenkan dua komponen menjadi satu. Sejumlah perawatan dental mengharuskan perlekatan antara gigi dengan protesa dan alat-alat, dengan bantuan bahan luting.

Basis

            Basis merupakan lapisan isolasi, terkadang berupa medikamen, atau semen yang diletakkan pada bagian dalam preparasi untuk melindungi jaringan pulpa dari injuri thermal atau kimia. Penggunaannya untuk melidungi pulpa dari injuri termal, galvanic shock, dan iritasi kimia, tergantung dengan jenis restorasi yang digunakan. Bahan ini harus memiliki kekuatan yang cukup agar dapat menahan tekanan kondensasi selama peletakan bahan restorasi.

Cavity Liner

            Merupakan lapisan tipis semen yang digunakan untuk melindungi pulpa.

Cavity Varnish

            Digunakan untuk menghalangi masukan iritan dari semen atau bahan restorasi lain, dan untuk mengurangi penetrasi cairan mulut pada interface restorasi dan gigi ke dalam dentin yang berada dibawahnya. Bahan ini memiliki ikatan dengan struktur gigi dan tidak boleh digunakan dengan semen adesif yang bertujuan untuk meningkatkan bond strength ke gigi dan ke restorasi.

 

B. Dental Semen dan Kegunaannya

            Terdapat 2 tujuan utama dipakainya dental semen, yaitu:

  1. Sebagai bahan restorasi tunggal maupun gabungan dengan bahan lain
  2. Sebagai perekat tambalan atau pesawat cekat didalam mulut.

Dental semen merupakan bahan yang memiliki kekuatan yang rendah dibandingkan dengan bahan lain. Bahan ini dapat larut dan mengalami desintegrasi didalam cairan mulut. Oleh karena itu penggunaannya terbatas dan dianggap sebagai bahan restorasi sementara. Kegunaan dari dental semen, yaitu :

  1. Sebagai insulator terhadap thermal shock
  2. Sebagai bahan perekat untuk inlay, crown, band ortodontik, dan lain-lain.
  3. Sebagai bahan pengisi saluran akar
  4. Sebagai bahan tambalan temporer dan permanen untuk restorasi pada gigi desidui
  5. Sebagai bahan pulp capping

 

C. Sifat dan Karakteristik Dental Semen

            Beberapa sifat yang perlu diperhatikan pada dental semen, yaitu:

1. Ketebalan film dan konsistensi

Ketebalan film sangat menentukan adaptasi restorasi dengan struktur gigi. Retensi juga dapat dipengaruhi oleh ketebalan film semen. Konsistensi semen juga mempengaruhi ketebalan film, karena semakin tinggi konsistensi semen maka semakin tebal film yang terjadi sehingga kedudukan semen kurang sempurna.

2. Viskositas

Konsistensi semen dapat ditentukan dengan mengukur viskositasnya. Temperatur dan waktu yang meningkat akan meningkatkan viskositas beberapa semen.

3. Setting time

Setting time semen memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan viskositas. Working time yang adekuat diperlihatkan dengan setting time yang pas.

4. Strength

Standar konsistensi luting dari dental semen harus memperlihatkan minimal compressive strength setelah 24 jam sebesar 70 MPa. Hal ini ditetapkan oleh spesifikasi ANSI/ADA No.96 (ISO 9917).

5. Solubilitas

Solubilitas dalam air dan cairan mulut adalah salah satu sifat dental semen yang juga penting. Secara umum, semen water-based lebih solubel dibandingkan dengan semen resin-based atau oil-based.

 

D. Klasifikasi Dental Semen

  1. Water-based cement
    1. Glass and resin modified glass ionomer cement
    2. Zinc Polyacrylate
    3. Zinc phosphate
    4. Resin-based cement
      1. Composites and adhesive resin
      2. Compomers
      3. Oil-based cement
        1. Zinc Oxide-Eugenol
        2. Noneugenol-Zinc oxide

 

E. Jenis-jenis Dental Cement

1. Zink Fosfat

Komposisi

            Kandungan utama bubuk semen zink fosfat adalah zinc oxide. Garam metalik digunakan untuk mengubah karakteristik kerja dan sifat akhir semen. Magnesium oksida biasanya ditambahkan untukmengurangi proses pada saat proses kalsinasi. Silikon dioksida merupakan filler inaktif pada bubuk semen. Bismuth trioksida ditambahkan untuk menghasilkan campuran semen yang halus dan juga untuk memperpanjang setting time.

Setting Reaksi

            Saat bubuk diaduk dengan cairan, asam fosfor akan menyerang permukaan partikel dan melepaskan ion zinc ke dalam cairan. Alumina yang sudah terbentuk sempurna dengan asam fosfor akan bereaksi dengan zink dan menghasilkan suatu gel zink aluminofosfat   pada permukaan partikel yang tersisa. Semen yang telah set ini berupa struktur inti, terutama terdiri dari pertikel zink oksida yang tidak bereaksi yang tertanam dalam matriks kohesif amorphous zink aluminofosfat. Reaksi ini dihasilkan melalui reaksi eksotermis. Air merupakan hal penting saat reaksi, oleh karena itu komposisi cairan/liquid harus dijaga untuk menjamin terjadinya reaksi yang konsisten selama pengadukan.

Manipulasi

  1. Penentuan rasio P/L sesuai dengan konsistensi yang diinginkan.
  2. Menggunakan mixing slab yang dingin.
  3. Bubuk harus dibagi menjadi beberapa bagian kecil. Pengadukan dimulai dengan menggabungkan bubuk dengan porsi sedikit ke cairan dengan spatulasi yang cepat. Area pengadukan harus cukup luas.
  4. Protesa harus diletakkan segera mungkin sebelum pembentukan matriks terjadi. Dan ditahan dengan tekanan sampai air set. Isolasi tetap dilakukan untuk menjaga daerah tetap kering.
  5. Semen yang berlebih dibuang setelah semen set. Disarankan untuk mengaplikasikan varnish untuk memberikan waktu agar semen matang dan mencegah semen larut karena cairan mulut.

Sifat Fisis dan Karakteristik

1. Sifat Mekanis

Jika semen zink fosfat dimanipulasi dengan tepat maka akan memiliki compressive strength sampai dengan 104 MPa dan diametral telsile strength-nya sekitar 5,5 MPa. Modulus elastisitas zink fosfat semen sekitar 13,7 MPa. Sehingga semen ini agak kaku serta digunakan sebagai bahan luting pada restorasi yang terkena stress pengunyahan yang tinggi.

2. Solubility dan Disintegrasi

Semen ini dapat larut dalam cairan mulut (terutama dalam suasana asam)

3. Keasaman

Karena adanya asam fosfor maka keasaman semen ini cukup tinggi terutama pada saat pertama kali diletakkan pada gigi.

4. Retensi

Setting semen zink fosfat tidak melibatkan reaksi apapun dengan jaringan keras sekelilingnya ataupun dengan bahan restorasi.

Kegunaan

            Berdasarkan konsistensinya, semen zink fosfat dikenal dengan istilah luting yang digunakan pada restorasi alloy. Basis semen zink fosfat digunakan sebagai penghalang termal dan kimia diatas lapisan dentin yang tipis. Namun ada juga konsistensi diantara luting dengan base yang dikenal dengan istilah konsistensi band-seating.

 

2. Zinc Oxide Eugenol (ZOE) dan Non-Eugenol

Komposisi

            Komposisi utama bubuk semen ini adalah zink oksida. White rosin ditambah untuk mengurangi kerapuhan semen yang telah set. Zinc stearate ditambahkan sebagai plasticizer, dan zink asetat untuk meningkatkan kekuatan semen. Eugenol dan olive oil merupakan cairan semen ini yang berfungsi sebagai plasticizer. Semen zinc oxide non-eugenol biasanya mengandung suatu aromatic oil dan zinc oxide. Dapat juga dilakukan penambahan bahan lain seperti olive oil, oleic acid dan beeswax.

Tipe Semen ZOE dan Non-Eugenol

  • Tipe I, semen luting ZOE sementara

Kekuatan semen sementara harus cukup rendah untuk memudahkan penyingkiran restorasi tanpa menyebabkan trauma pada gigi dan merudak restorasi.

  • Tipe II, semen luting ZOE jangka panjang

Sebagian besar semen komersial dibuat berdasarkan dua sistem untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan terhadap abrasi. Sistem pertama menggantikan cairan eugenol  dengan asam orthoethoxybenzoic (EBA), dan penambahan alumina dibubuknya. Sistem kedua terdiri dari bubuk yang mengandung fine partikel polimer dan partikel zink oksida yang telah mendapatkan perlakuan permukaan dengan asam karboksilik, dengan eugenol sebagai cairannya. Aplikasi yang baik dari semen ini untuk luting jangka pendek atau menengah mahkota dan gigi tiruan cekat pada akrilik sementara.

  • Tipe III, Bahan restotasi dan Basis

Setting Reaksi

            Pada reaksi setting, dua molekul eugenol bereaksi dengan hidrolisa ZnO untuk membentuk khelasi zinc eugenolate. Kelebihan zinc oxide selalu digunakan sehingga material yang telah set terdiri dari matriks zink eugenolate amorphous yang mengikat partikel zinc oxide yang tidak bereaksi. Air diperlukan untuk menginisiasi reaksi dan air juga merupakan produk sampingan reaksi tersebut. EBA juga membentuk khelasi dengan zinc oxide, dan keberadaan EBA juga dapat membentuk kristal zinc eugenolate yang akan menambah kekuatan semen. Setting time semen ini adalah 7-8 menit.

Kegunaan Semen ZOE dan non-eugenol

  • Semen sementara

ZOE digunakan sebagai luting mahkota sementara dan sebagai semen sementara restorasi logam mahkota jembatan

  • Restorasi sementara
  • Basis

Semen ini memiliki compressive strength sekitar 5,5-39 MPa, dan kekuatan maksimum didapatkan pada 12-15 menit. Semen ini merupakan insulator termal yang sangat baik, hampir sama dengan dentin.

  • Endodontik sealer

Semen ini dapat digunakan sebagai pengisi saluran akar dengan atau tanpa gutta-percha.

  • Periodontal management

Beberapa jenis semen ZOE  juga digunakan untuk management jaringan gingiva. Semen jenis ini digunakan dengan dua cara, yaitu untuk menggantikan jaringan lunak secara mekanik, serta sebagai dressing jaringan lunak setelah pembedahan.

 

3. Zinc Polycarboxilate Cement

Komposisi

            Semen polikarboksilat adalah sistem bubuk cairan. Cairannya adalah larutan air dari asam poliakrilat atau kopolimer dari asam akrilik dengan asam karboksilat lain yang tidak jenuh. Bubuknya mengandung zink oksida dengan sejumlah oksida magnesium. Oksida stanium dapat menggantikan oksida magnesium. Bubuk ini juga dapat mengandung sejumlah kecil stannous flourida yang mengubah waktu pengerasan dan memperbaiki sifat manipulasi.

Manipulasi

            Semen ini harus dicampur pada permukaan yang tidak menyerap cairan, alas aduk dari kaca memiliki kelebihan dibandingkan alas kertas, karena jika didinginkan akan dapat mempertahankan temperatur tersebut dalam waktu yang lebih lama. Cairan tidak boleh dikeluarkan dari alas aduk sebelum pengaduk siap untuk dilakukan. Cairan akan cepat kehilangan kandungan airnya di udara terbuka. Hilangnya air dari cairan akan meningkatkan kekentalannya. Bubuk dalam jumlah besar digabungkan dengan cepat kedalam cairan.

Sifat Khas Semen Zink Polikarboksilat

  • Ketebalan lapisan

Ketika semen karboksilat diaduk pada rasio P/L yang benar, adonannya lebih kental daripada adukan semen zink fosfat. Namun, adukan polikarboksilat diklasifikasikan sebagai pseudoplastik, dan mengalami pengenceran jika kecepatan pengolesannya ditingkatkan.

  • Working time dan setting time

Working time untuk semen polikarboksilat jauh lebih pendek daripada semen zink fosfat, yaitu sekitar 2,5 menit dibandingkan semen zink fosfat sekitar 5 menit. Penurunan temperatur reaksi dapat meningkatkan waktu kerja yang diperlukan untuk sementasi jembatan cekat. Waktu pengerasan berkisar 6-9 menit.

  • Compressive strength

Compressive strength semen polikarboksilat sekitar 55 MPa, lebih rendah daripada semen zink fosfat. Namun tensile strength sedikit lebih tinggi.

  • Solubility

Daya larut semen didalam air memang rendah, tetapi jika terkena asam organik dengan pH 4,5 atau kurang, daya larutnya meningkat sangat besar.

  • Pertimbangan biologis

pH dari semen polikarboksilat lebih tinggi daripada semen zink fosfat pada berbagai interval waktu. Meskipun semen polikarboksilat pada awalnya bersifat asam, produk ini hanya sedikit mengiritasi pulpa.

Semen polikarboksilat digunakan untuk sementasi akhir restorasi mahkota dan jembatan.

 

5. Glass Ionomer Cement

Komposisi

            Powder semen mengandung glass aluminosilikat dan cairan semen mengandung kopolimer polikarboksilat yang dilarutkan didalam air. Komposisinya terdiri dari SiO2, Al2O3, AlF3, CaF2, NaF, dan AlPO4.

Manipulasi

            Powder dan liquid diletakkan diatas paper pad atau glass slab. Powder semen dibagi dalam dua bagian yang sama. Bagian pertama dicampurkan kedalam liquid dengan spatula dan kemudian ditambahkan satu bagian lagi, dan diaduk selama 30-60 detik. Semen segera diaplikasikan karena working time setelah pengadukan kira-kira 2 menit. Glass slab yang dingin memperlambat setting reaksi dan menambah working time.

 Sifat-sifat dan Penggunaan

            Glass ionomer cement memiliki nilai compressive strength antara 90-220 MPa, tensile strength 4,5 MPa, dan modulus of elasticity 5,4 Gpa. Glass ionomer semen tidak mengiritasi dan bersifat antikariogenik karena dapat melepaskan flouride.

            Penggunaan semen ionomer kaca telah meluas antara lain sebagai bahan perekat pelapik, bahan restoratif untuk restorasi konservatif kelas I dan II, membangun badan inti, dan sebagai penutup pit dan fisur.ada 3 jenis semen ionomer kaca berdasarkan formulanya dan potensi penggunannya, yaitu tipe I untuk bahan perekat, tipe II untuk bahan restorasi, dan tipe III untuk basis atau pelapik.

 

5. Semen Ionomer Kaca dengan Modifikasi Logam

            Semen ionomer kaca kurang kuat sehingga tidak dapat menahan kekuatan pengunyahan yang besar. Semen ini juga tidak tahan terhadap keausan penggunaan dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti komposit dan keramik. Semen ionomer kaca telah dimodifikasi dengan mengikutkan partikel-partikel logam sebagai bahan pengisi sebagai usaha untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan, terhadap fraktur, dan ketahanan terhadap keausan. Ada 2 metude modifikasi yang telah dilakukan. Metode I adalah mencampurkan bubuk logam campur amalgam yang berpartikel speris dengan bubuk ionomer kaca tipe II. Semen ini disebut sebagai gabungan logam campur perak. Metode II adalah mencampur bubuk kaca dengan partikel perak dengan menggunakan pemanasan yang tinggi. Semen ini disebut dengan cermet.

 

6. Semen Ionomer Kaca dengan Modifikasi Resin

Komposisi dan Reaksi Pengerasan

            Komponen bubuk dari bahan yang dikeraskan dengan sinar mengandung kaca yang dapat melepaskan ion-ion dan inisiator untuk pengerasan dengan sinar atau kimiawi. Komponen cairan biasanya mengandung air, asam poliakrilat, atau asam poliakrilat dengan beberapa gugus karboksilik yang dimodifikasi dengan monomeer metakrilat dan hidroksietil metakrilat. Kedua bahan ini bertanggung jawab untuk polimerisasi. Reaksi pengerasan awal dari bahan ini ditimbulkan oleh polimerisasi gugus metakrilat. Reaksi asam-basa yang lambat akhirnya bertanggungjawab untuk proses pematangan yang unik dan kekuatan akhir.

            Penggunaan semen ini adalah untuk sementasi mahkota keramik zirkonia dan jembatan. Juga diindikasikan untuk sementasi mahkota alloy dan jembatan ke struktur gigi dan pembentuk inti restorasi dan bonding bracket ortodonti.

 

7. Semen Resin

Komposisi Semen Resin Sebagai Luting Alloy Mahkota dan Jembatan, serta Sebagai Pelekat Restorasi Estetis

            Semen self-cured dengan komponen utamanya berupa diacrylate olygomer diluted dan monomer dimetakrilat berberat molekul rendah. komponen utama lainnya adalah silanated silica atau glass. Sistem inisiator-aseleratornya adalah amin peroksida.

            Semen resin sebagai pelekat restorasi estetis merupakan komposit microfilled atau hibrid dengan kandungan utama resin Bis-GMA atau urethane dimethacrylate, dan filler silica atau glass. Pada semen light-cured, fotoinisiatornya adalah sistem champhorquinone-amine.

Penggunaan

  1. Sementasi mahkota dan jembatan konvensional
  2. Melekatkan keramik estetis, restorasi single composite laboratory, dan jembatan resin-bonded ke gigi
  3. Melekatkan braket ortodontik ke gigi
  4. Sementasi restorasi sementara.

 

8. Calsium Hydroxide

            Disediakan dalam bentuk powder yang nantinya akan dicampur dengan air destilasi atau dengan larutan kloroform. Penggunaannya pada kavitas yang dalam atau langsung pada pulpa yang terbuka dimana fungsinya sebagai perangsang pembentukan dentin sekunder.

Manipulasi dan Sifat Fisis

            Sebagian besar kalsium hidroksida tersedia dalam bentuk 2 pasta. Tiap pasta dengan panjang tertentu diletakkan diatas paper pad dan diaduk sampai warnanya sama. Semen light-cured dipolimerisasi dengan sinar tampak selama 20 detik setiap ketebalan 1 mm.

            Kalsium hidroksida memiliki compressive strength 96 MPa dan tensile strength 38 MPa. Semen ini memiliki konduktifitas termal yang rendah. pH dari semen ini berkisar antara 11-12. Setting time bervariasi antara 2-7 menit.

           

F. Peralatan yang Digunakan

  1. Spatula semen
  2. Mixing slab
  3. Mixing pad

DAFTAR PUSTAKA

  1. Phillips. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi 10th ed, Jakarta. EGC, 2003: 444-61.
  2. Syafiar L, Rusfian, Sumadhi S, Yudhit A, Harahap KI, Adiana ID. Bahan Ajar Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran gigi. 1st ed, Medan. USU Press, 2011: 135-59.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s