Peranan Mikrobial Terhadap Infeksi Karies, Endodonti, dan Periodontal

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Menurut statistik, karies gigi adalah penyakit yang paling sering terjadi pada manusia, setelah demam flu. Karies dapat terjadi pada siapa saja, walaupun umumnya sering muncul pada usia anak atau dewasa muda. Karies inilah yang merupakan penyebab utama kehilangan gigi pada usia muda. Asam yang diproduksi dalam plak akan terus merusak lapisan email gigi. Kemudian bakteri akan mengikuti jalan yang sudah dibuat oleh asam dan menginfeksi lapisan berikutnya, yaitu dentin.1

Jika email yang bersih terpapar di rongga mulut maka akan ditutupi oleh lapisan organik yang amorf yang disebut pelikel. Pelikel ini terutama terdiri atas glikoprotein yang diendapkan dari saliva dan terbentuk segera setelah penyikatan gigi. Sifatnya sangat lengket dan mampu membantu melekatkan bakteri-bakteri tertentu pada permukaan gigi. Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel terutama yang berbentuk kokus. Yang paling banyak adalah streptokokus. Organisme tersebut tumbuh, berkembang biak dan mengeluarkan gel ekstra-sel yang lengket dan akan menjerat berbagai bentuk bakteri yang lain. Dalam beberapa hari plak ini akan bertambanh terbal dan terdiri dari berbagai macam mikroorganisme. Akhirnya flora plak yang tadinya didominasi oleh bentuk kokus berubah menjadi flora campuran yang terdiri atas kokus, batang, dan filamen.2

Endodontik adalah cabang kedokteran gigi yang melakukan perawatan saluran akar, dikarenakan infeksi gigi yang telah menyebabkan kematian pada saluran akar gigi.Perawatan saluran akar ini adalah metode perawatan gigi konservatif yang berusaha menyelamatkan struktur gigi yang masih ada dan mengobati infeksi gigi.

Penyakit periodontal atau penyakit gusi, merupakan suatu kondisi dimana jaringan periodontal yang terdiri dari gusi, tulang alveolar, membrane periodontal, dan sementum terserang infeksi sehingga mengalami peradangan dan kerusakan.3

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Peranan Mikroba Terhadap Terjadinya Karies

Ada empat hal utama yang berpengaruh pada karies yaitu permukaan gigi, bakteri kariogenik (penyebab karies), karbohidrat yang difermentasikan, dan waktu. Pada makalah ini, kita akan membahas microbial/bakteri kariogenik.

Mulut merupakan tempat berkembang biaknya banyak bakteri, namun hanya sedikit bakteri penyebab karies, yaitu Streptococcus mutans dan Lactobacilli di antaranya. Khusus untuk karies akar, bakteri yang sering ditemukan adalah Lactobacillus acidophilusActinomyces viscosusNocardia spp., dan Streptococcus mutans. Contoh bakteri dapat diambil pada plak.4

Pada manusia mikroba yang terkait karies permukaan halus dan ceruk-fisur adalah streptokokus golongan mutan, khususnya Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus, sedangkan mikroba terkait dengan karies akar adalah Actinomyces spp. Kendatipun Streptococcus golongan mutan berperan penting dalam mengawali karies, golongan ini tidak begitu berperan dalam perkembangan karies selanjutnya, yaitu karies yang dalam. Bakteri didalam lapisan karies yang paling dalam didominasi oleh anaerob obligat.Ketika pulpa terpajan oleh karies, banyak sekali spesies oportunis dari flora oral yang menginvasi dan berkoloni di jaringan yang nekrosis. Hal ini memungkinkan seleksi oleh ekosistem yang menyebabkan infeksi yang berasal dari jaringan gigi.5

            Streptococcus mutans dan laktobasilus merupakan kuman yang kariogenik karena mampu segera membuat asam dari karbohidrat yang dapat diragikan. Kuman-kuman tersebut dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat polosakharida ekstra sel yang sangat lengket dari karbohidrat makanan. Polisakharida ini, yang terutama terdiri dari polimer glukosa, menyebabkan matriks plat gigi mempunyai konsistensi seperti gelatin. Akibatnya bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain. Dan karena plak makin tebal maka hal ini akan menghambat fungsi saliva dalam menetralkan plak tersebut.2

Ternyata, dalam mulut pasien yang caries aktive, jumlah Streptococcus mutans dan laktobasilus lebih banyak ketimbang dalam mulut orang yang bebas karies. Penyelidikan akhir-akhir ini juga memperlihatkan bahwa S. Mutans dapat dipindahkan dari ibu ke bayinya, mungkin dengan kontak oral. Oleh karena itu karies harus dianggap sebagai suatu penyakit yang dapat ditularkan dan dipindahkan.2

 

B. Peranan Mikrobial pada Karies Endodonti

D. Miller (1894) adalah peneliti yang pertama mengidentifikasi bakteri pada saluran akar. Endodontik adalah cabang kedokteran gigi yang melakukan perawatan saluran akar, dikarenakan infeksi gigi yang telah menyebabkan kematian pada saluran akar gigi.Pengetahuan mengenai saluran akar gigi merupakan hal penting untuk keberhasilan suatu perawatan endodontik.

Weine membagi bentuk saluran menjadi 4 tipe, yaitu:

  • Tipe I : Saluran akar tunggal dari kamar pulpa menuju apeks
  • Tipe II: Dari kamar pulpa ada dua saluran akar dan menjadi satu pada daerah mendekati apeks
  • Tipe III: Dua saluran akar terpisah mulai dari kamar pulpa sampai apeks
  • Tipe IV: Dari kamar pulpa, satu saluran akar dan pada daerah mendekati apeks terpisah menjadi dua.6

Penyakit pulpa dan periapeks terjadi karena timbulnya infeksi oleh bakteri oportunispatogen pada jaringan pulpa dan periapeks.Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penyakit pulpa dan periapikal disebabkan oleh bakteri oral secara langsung maupun tidak langsung.Tahap-tahap infeksi pada penyakit endodonsi meliputi :

  • Invasi mikroba
  • Kolonisasi
  • Multiplikasi
  • Aktifitas patogenitas

 

Penelitian pertama Miller(1890) membuktikan adanya bakteri pada jaringan pulpa gigi manusia yang nekrotik. Flora dalam saluran akar yang terinfeksi pada umumnya terdiri dari banyak spesies bakteri (polimikrobial).Spesies yang dahulu dianggap predominan adalah Streptococci, Micrococci dan sejumlah kecil bakteri anaerob.Semakin canggih media kultur dan teknik identifikasi bakteri, ditemukan bahwa 90% bakteri adalah anaerob.

Kakehashi et al. (1965) melakukan penelitian dengan membuka jaringan pulpa gigi tikus yang hidup dalam kondisi biasa (konvensional) dan yang steril (gnotobiotic).Ditemukan lesi pulpa dan periapikal hanya terjadi pada tikus yang konvensional. Infeksi saluran akar bersifat multibakterial(mixed infection). Bakteri yang paling berperan adalah bakteri anaerob Bacteriodes yang sekarang dikenal dengan Porphyromonas dan Prevotella.

Jalan masuk bakteri ke pulpa:

  1. Terbukanya tubulus dentin
  2. Terbukanya pulpa secara langsung
  3. Ligamen periodontal melalui foramen apikal dan lateral
  4. Bakteri dalam darah(anachoresis)

 

  1. 1.      Enterococcus faecalis

Enterococcus faecalis adalah salah satu bakteri yang terdapat pada infeksi saluran akar. Nama “Enterocoque” pertama kali digunakan oleh Thiercelin pada surat kabar di Prancis pada tahun 1899 untuk mengidentifikasi organisme pada saluran intestinal. Pada tahun 1930, Lancefield mengelompokkan Enterococci sebagai Streptococci grup D. Kemudian pada tahun 1937, Sherman mengajukan skema klasifikasi dimana nama enterococci hanya digunakan untuk streptococci yang dapat tumbuh pada 100C dan 450C, pada pH 9,6 dan dalam 6,5% NaCl dapat bertahan pada suhu 600C selama 30 menit. Akhirnya pada tahun 1980-an, berdasarkan perbedaan genetik, enterococci dipindahkan dari genus Streptococcus dan ditempatkan digenusnya sendiri yaitu Enterococcus.Enterococcus faecalis merupakan bakteri yang tidak membentuk spora, tidak bergerak, metabolisme fermentatif (karbohidrat menjadi asam laktat), fakultatif anaerob, kokus gram positif dan tidak menghasilkan reaksi katalase dengan hydrogenperoksida. Bakteri ini berbentuk ovoid dengan diameter 0,5-1 μm dan terdiri dari rantai pendek, berpasangan atau bahkan tunggal.

 

 Koloni  Enterococcus faecalis

Bakteri ini sering ditemukan pada infeksi rongga mulut, periodontitis marginalis, infeksi saluran akar, abses periradikular dan sering terdeteksi pada kasus terapi endodontik yang gagal termasuk pada pengisian saluran akar dengan periodontitis apikalis yang persisten. Enterococcus faecalis dapat bertahan hidup di saluran akar sekalipun dalam lingkungan yang merugikan dengan nutrisi yang terbatas.7

Enterokokus yang bereaksi dengan antiserum golongan D adalah bagian dari flora usus normal. Antigen golongan D adalah asam teikoat, antigen ini buknlah suatu antigenic yang baik dan enterokokus biasanya diidentifikasi melalui ciri-ciri khas lain. Antigen ini biasanya bersifat nonhemolitik dan kadang-kadang alfa hemolitik tetapi PYR-positif. Bakteri ini tumbuh pada perbenihan empedu, eskulin hidrolisa, dan pada NaCl 6,5%. Bakteri ini bersifat resisten terhadap penisilin G dibandingkan dengan Streptokokus dan sedikit isolate yang memiliki plasmid beta laktamase8

  1. 2.      Actinomyces spp

Actinomyces juga berperan dalam infeksi saluran akar, merupakan bakteri gram positif anaerob yang berasal dari genus Actinomyces bakteri ini sebagian besar berhabitat didaerah mulut khusunya saliva, lidah dan gingival. Bakteri ini tergolong unik dan belum terisolasi dari habitat lain. Walaupun Actinomyces merupakan flora normal, tetapi bila terdapat pada daerah yang bukan habitatnya, maka bakteri ini akan menjadi patogen.

            Sama seperti Enterococcus faecalis, Actinomyces juga merupakan bakteri gram positif yang anaerob dan tidak membentuk spora.Bila bakteri yang patogen, didalam jaringan, spesies Actinomyces terdapat sebagai filament bercabang yang dikelilingi oleh peradangan supuratif, abses dan fibrosif.ciri khas peradangan ini adalah granula sulfur dalam nanah.8

 

C. Peranan Mikrobial pada Infeksi Karies Periodontal

Bakteri adalah penyebab utama terjadinya penyakit periodontal. Kalau kebersihan mulut tidak kita jaga, maka timbunan plak pada permukaan gigi akan semakin menebal. Berbagai bakteri yang terdapat didalam plak ini tidak hanya merusak gigi, tetapi juga dapat masuk kedalam gusi dan menginfeksi jaringan periodontal yang lebih dalam.

Plak yang sudah lama menimbun dan tidak dibersihkan, baik plak yang diluar maupun yang sidah masuk kedalam gusi, dapat mengeras dan berubah menjadi karang gigi. Permukaan karang gigi yang kasar ini, akan semakin mempermudah plak lainnya untuk menempel dan menginfeksi jaringan periodontal.

Menghadapi serangan bakteri ini, tubuh kita akan memberikan respon yang disebut peradangan atau inflamasi, yang akan menghadang serangan dari bakteri. Pada proses peradangan, sel-sel dari sistem kekebalan tubuh kita akan mengeluarkan suatu substansi yang menimbulkan proses peradangan. Namun sayangnya substansi ini meskipun dapat menghadang bakteri lewat proses inflamasi, substansi ini juga dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan periodontal disekitar gigi. Awalnya gusi yang mengalami inflamasi akan membengkak dan mudah berdarah, perlekatan gusi dengan gigi juga akan mengalami kerusakan. Hal ini mengakibatkan sulkus gusi yang merupakan celah antara gigi dengan gusi menjadi bertambah dalam. Apabila hal ini terjadi, maka plak akan semakin aman didalam sulkus gusi karena sikat gigi atau flossing akan semakin sulit mencapai dasar sulkus yang semakin mendalam tadi.

Jika plak ini tidak segera ditangani, maka proses peradangan akan sampai ke jaringan periodontal lainnya, khususnya jaringan tulang alveolar yang berfungsi menyangga gigi dengan kokoh. Gigi akan menjadi mobile, bila pada kasus yang parah, gigi perlu dicabut bahkan juga dapat terlepas sendiri dari gusi.

Penyakit periodontal terbagi lagi menjadi tiga tahapan:

  • Ginggivitis

Peradangan pada jaringan gusi merupakan tahap paling awal dari penyakit periodontal.Kondisi ini disebabkan oleh iritasi dari plak yang biasanya menumpuk di pinggiran gusi. Apabila plak tidak dibersihkan, bakteri-bakteri yang berada didalamnya akan menghasilkan toksin yang mengiritasi gusi yang berakibat pada inflamasi. Ciri-ciri yang terlihat yaitu gusi membengkak dengan warna merah, dan gampang berdarah saat menyikat gigi/flossing. Perawatan akan membantu gusi kembali sehat seperti semula.

  • Periodontitis

Pada tahap ini kerusakan akan meliputi jaringan membran periodontal dan tulang alveolar. Sulkus gusi semakin dalam dan plak menjadi sukar dibersihkan.Selain itu, pinggiran gusi juga dapat menurunsehingga mahkota gigi tampak lebih panjang. Jaringan periodontal pada tahap ini tidak dapat kembali utuh seperti semula, tetapi proses kerusakan dapat dihentikan dengan melakukan perawatan skeling dikombinasikan dengan perawatan root planning. Regenerasi jaringan dapat dilakukan dengan tindakan bedah periodontal.

  • Advanced Periodontitis

Pada tahap ini kerusakan jaringan periodontal sudah semakin meluas.Sulkus gusi bertambah dalam, membran periodontal semakin rusak, dan tulang alveolar mengalami resorpsi/menghilang. Gigi akan kehilangan dukungannya dan menjadi mobile.Kerusakan ini kebanyakan bersifat permanen.Kondisi ini dapat diperbaiki dengan bedah periodontal.Jika tidak berhasil, kemungkinan gigi yang mobile harus dicabut.

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Endodontik adalah cabang kedokteran gigi yang melakukan perawatan saluran akar, dikarenakan infeksi gigi yang telah menyebabkan kematian pada saluran akar gigi.

Penyebab utama penyakit periodontal adalah bakteri pada plak yang tertimbun di permukaan gigi. Bakteri dalam plak kemudian masuk ke gusi dan dapat menginfeksi jaringan periodontal yang lebih dalam. Tahapan penyakit periodontal yakni gingivitis, periodontitis, dan advanced periodontitis.

Enterococcus faecalis dan actinomyces adalah dua dari banyak bakteri yang berperan dalm terjadinya infeksi karies endodontik (saluran akar gigi)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Pratiwi D. Gigi sehat dan cantik. In: Suhanda I, ed. Jakarta: Kompas, 2009: 31.
  2. Kidd EA, Joyston S. Dasar-dasar Karies Penyakit dan Penanggulangannya. In: Sumawita S, ed. Jakarta: EGC, 1991: 3
  3. Rahmadhan AG. Serba serbi kesehatan gigi dan mulut. In: Handayani NP, ed. Jakarta: Bukune, 2010: 101-4.
  4. Anonymous. Karies gigi. <http://id.wikipedia.org/wiki/Karies_gigi>. 5 Oktober 2011.
  5. Walton RE, Torabinejad M. Prinsip dan praktik ilmu endodonsia 3rd ed. Alih bahasa. Sumawinata N. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2008: 317.
  6. Tarigan R. Perawatan pulpa gigi (endodonti). 2nded. In: Juwono L,ed. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2006: 12.
  7. Anonymous. Universitas Sumatera Utara. <http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29159/4/Chapter%20II.pdf>. 5 Oktober 2011.
  8. Nasution M. Pengantar mikrobiologi. Medan: USU Press, 2010: 103;175-6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s