Sistem Adhesif dan Bonding

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Sistem adhesif dalam kedokteran gigi telah dipakai selama 30 tahun terakhir. Perkembangan bahan adhesif telah menyebabkan restorasi resin komposit lebih dapat diandalkan dan bertahan lebih lama. Sistem adhesif yang lebih baru menghasilkan kekuatan perlekatan yang tinggi pada dentin yang lembab dan kering, dengan pembuangan smear layer secara keseluruhan ataupun sebagian. Akan tetapi, kekuatan perlekatan dapat bervariasi tergantung pada kelembaban intrinsik dentin, daerah yang dietsa, dan bahan adhesifnya. Resin sintetik berkembang sebagai bahan tambala atau restorasi karena sifatnya yang tidak mudah larut, tidak mahal dan relative mudah untuk dimanipulasi. Karakteristik tertentu seperti warnanya yang sama dengan warna gigi, tidak larut dalam cairan mulut, polimerisasi yang tinggi serta tingginya koefisien ekspansi termal yang tinggi.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Sistem Adesif

Kata adhesif berasal dari bahasa latin adhaerere yang berarti melekatkan. Secara terminologi, adhesi adalah suatu proses interaksi zat padat maupun cair dari suatu bahan (adhesive atau adherent) dengan bahan yang lain (adherend) pada sebuah interface. Dental adhesion biasanya disebut juga dengan dental bonding. Kebanyakan keadaan yang berhubungan dengan dental adhesion akan melibatkan adhesive joint. Adhesive joint adalah hasil interaksi lapisan bahan intermediet (adhesive atau adherent) dengan dua permukaan (adherend) menghasilkan dua buah adhesive interface. Enamel bonding agent yang melekat di antara enamel yang dietsa dan bahan resin komposit, merupakan dental adhesive joint yang klasik.1

 

B. Sifat Interphase Bonding

Kekuatan perlekatan yang maksimal didapat dengna mempersiapkan permukaan interface dengan baik. Adapun syarat interface adalah pertama memiliki aderen yang baik (Good Adherend). Aderen yang baik memiliki energy permukaan yang tinggi atau besar. Hal ini didapat dari bersihnya permukaan yang akan dilekati dari debris ataupun kontaminasi. Yang kedua haruslah memiliki pembasahan yang maksimal (Maximal Wetting). Pembasahan yang maksimal didapat jika bahan adhesive (bonding) memiliki sudut kontak yang rendah dan menyebar rata di permukaan aderen. Seterusnya perlekatan mesti membutuhkan adaptasi yang intim (Intimate Adaptation). Adaptasi aderen dengan bahan adesif yang intim terjadi tanpa adanya intervensi dari udara yang terjebak (porus) ataupun kontaminasi yang lainnya. Perlekatan (Bonding ) juga penting untuk perlekatan yang maksimal baik secara mekanis, fisik dan kemis antara substrat. Dan yang terakhir ialah memiliki curing yang maksimal (Maximal Curing). Jika polimerisasi bahan adesif maksimal, maka ikatan yang terjadi juga akan maksimal.3

 

C. Sifat Wettability Bahan Bonding

Jelaskan sifat wettability bahan bonding yang penting untuk keberhasilan bonding dinilai dari Sudut Kontak atau dikenali sebagai Persamaan Young. Persamaan Young adalah dasar dari uraian kuantitatif fenomena wetting. Jika satu tetes liquid ditempatkan di permukaan solid, akan ada 2 kemungkinan (1) liquid spreads diatas permukaan secara sempurna (sudut kontak Q = 0o) atau (2) terbentuk sudut kontak tertentu, pada kasus ini terbentuk garis kontak 3 fase disebut juga wetting line. Pada garis kontak ini, ada 3 fase yang saling berkontak, solid, liquid dan uap. Persamaan Young menghubungkan sudut kontak dengan tegangan permukaan gS, gL dan gSL. Jika tegangan interface permukaan solid lebih tinggi dari interface solid-liquid (gS > gSL) sisi kanan persamaan Young positif. Sehingga cos Q haruslah positif dan sudut kontak kecil dari 90o, liquid membasahi solid secara parsial. Jika interface solid-liquid energetically less favorable dibanding permukaan solid ((gS < gSL) sudut kontak akan melebihi 90o karena cos Q akan bernilai negatif.4

Line Tension juga mempengaruhi sifat wettability bahan bonding. Spreading biasanya disertai perubahan panjang dari wetting line. Misalnya: jika satu tetes dengan area kontak bundar spread, panjang garis kontak 3 fase meningkat sebesar 2pa da. Seperti halnya pembentukan luas permukaan baru, pembentukan wetting line baru juga membutuhkan energi. Energi per unit panjang disebut line tension k.

D. Ikatan bonding yang terbentuk

Ikatan yang terbentuk antara struktur gigi dengan bahan bonding adalah ikatan mikromekanikal.

Ikatan yang terbentuk antara bahan bonding dengan resin komposit adalah ikatan kimia.

 

E. BondingEnamel

Bahan bonding enamel yang berkomposit resin lebih kental. Kekentalan bahan ini berasal dari bahan matriks resin yang dilarutkan dalam monomer lain untuk menurunkan kekentalan dan meningkatkan kemungkinan membasahi. Bahan ini tidak mempunyai potensi perlekatan tetapi cenderung meningkatkan ikatan mekanis dengan membentuk resin tag yang optimum pada enamel. 2

F. Bonding Dentin

Perlekatan yang kuat bahan tumpatan pada dentin sulit didapatkan bila dibandingkan ke permukaan enamel meskipun telah dilakukan pengetsaan asam. Hal ini disebabkan adanya komponen tertentu yang dimiliki dentin seperti struktur tubulus dentin, kelembaban intrinsik dentin dan bersifat lebih hidrofilik dibanding enamel. Beberapa faktor yang memberikan pengaruh pada perlekatan dentin antara lain komposisi dari dentin (dentin mengandung air lebih banyak 12%, kolagen 18% dan hidroksiapatit 70%), adanya cairan di dalam tubulus dentin, prosesus odontoblast yang terdapat pada tubulus dentin, jumlah dan lokasi dari tubulus dentin, serta keberadaan smear layer. Smear layer tersebut dapat menutup tubulus

dentin dan berperan sebagai barrier difusi sehingga mengurangi permeabilitas dentin.

Idealnya, adesif dentin harus bersifat hidrofilik untuk menggeser cairan dentin dan juga membasahi permukaan, memungkinkannya berpenetrasi menembusi pori di dalam matriks resin di dalam dentin dan akhirnya bereaksi dengan komponen organik atau anorganik. Karena kebanyakan matriks resin komposit bersifat hidrofobik, bahan bonding harus mengandung lebih bahan hidrofilik. Bagian hidrofilik harus dirancang untuk berinteraksi dengan permukaan dentin yang lembap, sedangkan bagian hidrofobik harus berikatan dengan restorasi resin. 2

 

G. Sistem Bonding Generasi Ke-V

Awal tahun 1990-an, perkembangan generasi ini berupa pengetsaan untuk mendapatkan lapisan hybrid pada dentin, bahan yang bersifat hidrofilik untuk enamel dan dentin serta bonding terhadap struktur gigi yang lembap.

Generasi ke-5 juga dikenal juga dengan sistem bonding total-etch single bottle. Sistem ini masih memerlukan pengetsaan dengan asam fosfor dan pencucian setelahnya pada tahapan kerjanya. Kandungan utama etsa adalah asam fosfor. Sementara kandungan utama primer-adesif dapat berupa PENTA atau methacrylated phosponates. Pelarut dapat berupa aseton, etanol dalam air ataupun bebas pelarut.

Pada sistem bonding ini juga diperlukan pengontorolan yang adekuat pada pengetsaan struktur gigi, kebasahan permukaan dan perlekatan resinnnya. Formula  yang tersedia dapat berupa light cured ataupun dual-cured dengan katalis (self-cured). Dapat digunakan pada restorasi langsung. 3

 

H. Klasifikasi Dental Resin Komposit

Ukuran Partikel

a)      Komposit Tradisional

Juga disebut komposit konvesional atau komposit pengisi makro karena ukuran partikel bahan pengisi yang relative besar. Karena bahan yang digunakan bukanlah bahan bias yang digunakan lagi, istilah konvesional harus diganti dengan tradisional. Ukuran rata-rata Quartz adalah 8-12 µm, partikel sebesar 50 µmungkin juga ada. Banyakya bahan pengisi umumnya 70-80% volume.

 

b)      Komposit Berbahan Pengisi Mikro

Menggunakan partikel Silika koloidal sebagai bahan pengisi anorganik. Partikel individu berukuran 0,04 µm jadi partikel lebih kecil 200-300 kali dibandingkan dengan rata-rata partikel Quartz dalam komposit tradisional.

 

c)      Komposit Berbahan Pengisi Partikel Kecil

Bahan pengisi anorganik ditumbuk lebih kecil dibandingkan dengan yang biasa digunakan dalam komposit tradisional. Rata-rata ukuran bahan berkisar antara 1-5 µm. Distribusi  ukuran partikel yang luas ini memungkinkan tingginya muatan bahan pengisi, dan komposit bahan pengisi partikel kecil umumnya mengandung bahan pengisi anorganik yang lebih banyak, 80% berat dan 60-65% volume dibandingkan dengan komposit tradisional. 2

Viskositas

a)      Flowable

Resin komposit ini memiliki ukuran filler yang berkisar antara 0.04-1 μm dan persentase komposisi atau muatan fillernya berkurang hingga 44-54%.1 Resin komposit flowable memiliki modulus elastisitas yang rendah, sehingga dapat digunakan pada bagian servikal. Oleh karena kandungan filler yang rendah, resin komposit ini menunjukkan tingginya pengerutan selama polimerisasi, daya tahan

pemakaian yang rendah, dan viskositas yang rendah.2,5,7,8 Kelebihannya yaitu mudah diadaptasikan, lebih fleksibel, radiopak, dan tersedia dalam warna yang berbeda.5,6 Resin komposit flowable dengan kandungan filler yang lebih rendah dapat digunakan untuk pit dan fisur sealant atau restorasi anterior yang kecil, sedangkan resin komposit flowable dengan kandungan filler yang lebih tinggi dapat digunakan untuk restorasi klas I, II, III, IV, dan V

 

b)      Packagable

Pada akhir tahun 1996 diperkenalkan resin komposit packable atau resin komposit condensable.4 Resin komposit packable memiliki ukuran partikel filler yang tinggi,5,6 berkisar antara 0.7-2 μm dan persentase komposisi atau muatan fillernya berkisar antara 48-65% volume.1 Komposisi filler yang tinggi dapat menyebabkan kekentalan atau viskositas bahan menjadi meningkat sehingga sulit untuk mengisi celah kavitas yang kecil. Tetapi dengan semakin besarnya komposisi filler juga menyebabkan bahan ini dapat mengurangi pengerutan selama polimerisasi, memiliki koefisien thermal yang hampir sama dengan struktur gigi, dan adanya perbaikan sifat fisik terhadap adaptasi marginal. Resin komposit ini juga diharapkan dapat menunjukkan sifat-sifat fisik dan mekanis yang baik karena memiliki kandungan filler yang tinggi.4 Kelebihan dari resin komposit packable yaitu mudah dirapikan, mudah mendapatkan kontak yang bagus, dan mudah membentuk anatomi oklusal, sedangkan kekurangannya yaitu sulit beradaptasi antara satu lapisan dengan lapisan lainnya, sulitnya penanganan, dan estetis yang kurang.5,6 Resin komposit ini diindikasikan untuk restorasi klas I, klas II dengan luas kavitas yang kecil, klas V, dan MOD.2,4,7

 

I. Bahan dan Alat Finishing dan Pemolesan Resin Komposit

Bahan dan alat finishing

  1. Diamond atau green stone
  2. Quatrz atau aluminium oxide disk atau rubber wheel
  3. Carbide burs

Alat pemolesan

  1. Dapat berupa bubuk ataupun pasta yang mengandung perlite
  2. Diamond
  3. Quartz atau Aluminium Oxide 3

 

J. Gambaran Radiologi Dental

Untuk memastikan estetik dari restorasi komposit, ketransparanan bahan pengisi harus serupa dengan struktur gigi. Untuk memastikan translusen yang baik, indeks refraksi bahan pengisi harus serupa dengan resin. Untuk bis-GMA dan TEGDMA, indeks refraksi adalah sekitar 1,55 sampai 1,46 sementara campuran 2 komponen dengan proporsi yang sama per berat, memberikan indeks refraksi sekitar 1,5 yang cukup untuk mendapatkan translusensi yang baik.

Radiopak bahan pengisi disebabkan oleh sejumlah kaca dan perselen yang mengandung logam berat seperti Barium (Ba), Strontium (Sr) dan Zirconium (Zr). Partikel kaca tersebut memiliki indeks refraksi sebesar 1,5 untuk menyamai resin. Kaca pengisi yang paling sering dipakai adalah kaca barium. Meskipun bahan pengisi ini memberikan warna radiopak, bahan ini tidak selembam bahan quartz pada medium berair. Perbedaan komposisi media penyimpanan mempengaruhi mudah tidaknya tepi bahan tambal terkelupas, sehingga sulit memperkirakan efek klinis dari pemaparan saliva.2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s