Gigi Tiruan

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Basis gigitiruan adalah bagian dari suatu gigitiruan yang bersandar pada jaringan pendukung dan tempat anasir gigitiruan dilekatkan. Basis gigitiruan digunakan untuk membentuk bagian dari gigitiruan baik yang terbuat dari logam maupun bahan resin, bersandar diatas tulang yang ditutupi dengan jaringan lunak dan merupakan tempat anasir gigitiruan dilekatkan. Daya tahan dan sifat-sifat dari suatu basis gigitiruan sangat dipengaruhi oleh bahan basis gigitiruan tersebut. Berbagai bahan telah digunakan untuk membuat gigitiruan. Sebelum pembuatan gigi tiruan, terlebih dahulu dilakukan pencetakan yang memerlukan bahan cetak. Bahan cetak digunakan untuk meniru gigi dan jaringan disekitar mulut. Dari bahan ini dibuat model yang akan digunakan sebagai pembuatan gigi tiruan penuh, gigi tiruan sebagian lepasan, mahkota, jembatan, dan inlay. Bahan Cetak Alginat adalah salah satu bahan cetak ireversibel yang sering digunakan sejak lama.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Bahan Cetak Alginat

Bahan cetak digunakan untuk meniru gigi dan jaringan disekitar mulut. Dari bahan ini dibuat model yang akan digunakan sebagai pembuatan gigi tiruan penuh, gigi tiruan sebagian lepasan, mahkota, jembatan, dan inlay.1

Salah satu bahan cetak hidrokolloid yang sampai saat ini yang masih sering digunakan adalah irreversible hydrocolloid alginate. Bahan cetak alginate sampai sekarang masih banyak digunakan di Kedokteran Gigi dengan alasan penanganannya mudah, alat yang dipergunakan relatif sederhana, elastis, cukup akurat dan relatif lebih murah. Alginate berasal dari asam alginate yang diperoleh dari rumput laut yang merupakan bahan dasar bahan cetak irreversible hydrocolloid.1

Komponen aktif utama dari bahan cetak hidrokoloid irreversibel adalah salah satu alginat yang larut air, seperti natrium, kalium, atau alginat trietanolamin. Bila alginat larut air dicampur dengan air, bahan tersebut membentuk sol. Sol sangat kental meskipun dalam konsentrasi rendah. Alginat yang dapat larut membentuk sol dengan cepat bila bubuk alginat dan air dicampur dengan kuat. Berat molekul dari campuran alginat amat bervariasi. Semakin besar berat molekul, semakin kental sol yang terjadi.2

 

B. Manipulasi Bahan Cetak Alginat

Bubuk yang telah ditakar ditaburkan ke dalam air yang juga telah ditakar dan ditempatkan pada rubber bowl bersih. Bubuk dan air disatukan dengan pengadukan secara hati-hati menggunakan spatula. Perhatikan agar udara tidak terjebak dalamcampuran. Pengadukan bahan alginat yang tidak tepat dapat merusak kualitas hasil cetakan. Gerakan angka delapan dengan cepat adalah yang terbaik, dengan adukan dihentakkan dan ditekan pada dinding rubber bowl dengan putaran intermitten (1800) dari spatula untuk mengeluarkan gelembung udara.semua bubuk haruslah tercampur,bila terdapat sisa bubuk, gel yang baik tidak akan terbentuk dan sifat bahan menjadi kurang sempurna.2

Sebelum menempatkan cetakan dalam mulut, bahan tersebut harus mencapai konsistensi tertentu sehingga tidak mengalir keluar sendok cetak dan membuat pasien tersedak. Campuran ditempatkan pada sendok cetak yang sesuai, yang dimasukkan ke dalam mulut. Bahan cetak harus menempel pada sendok cetak sehingga hasil cetakan dapat ditarik dari sekitar gigi. Oleh karena itu, umumnya digunakan sendok cetak berlubang-lubang. Bila dipilih sendok cetak plastik atau sendok cetak polos, suatu lapisan tipis perekat sendok harus diaplikasikan dan dibiarkan kering dengan sempurna sebelum pengadukan dan memasukkan alginat ke dalam sendok cetak.2

            Setelah bahan cetak mengeras dan dikeluarkan dari mulut, Kemudian dilanjutkan pengisian cetakan dengan gips untuk mendapatkan model. Bahan cetak alginate sangat dipengaruhi keadaan suhu, kekeringan dan kelembaban di udara terbuka, jadi kemungkinan ada pengaruh waktu pengisian cetakan alginate terhadap ketepatan model hasil cetakan.1

 

C. Perubahan Dimensi Cetakan Alginat.

Ruggeberg dkk, mempunyai catatan bahwa terjadi perubahan dimensi pada cetakan yang menggunakan bahan cetak irreversible hydrocolloid jika direndam larutan sodium hypochlorite 0.5 % selama 10 menit. Tullur dkk, menyatakan sebagian bahan cetak irreversible hydrocolloid tidak larut jika direndam dalam larutan sodium hypochlorite 1 % selama 15 menit. Sedangkan menurut Herrera dan Merchant, tidak ada efek keakuratan dimensi pada bahan cetak irreversible hydrocolloid setelah perendaman dalam larutan sodium hypochlorite 0.5 % dan 1 % selama 30 menit.1

Panza dkk (2006) dalam penelitiannya terhadap stabilitas dimensi bahan cetak yang direndam dalam larutan desinfektan sodium hypochlorite 1% menyatakan terjadinya perubahan stabilitas dimensi alginate yang direndam selama 15 menit sebesar 0.3 mm dibandingkan grup kontrol.7 Sodium hypochlorite umumnya digunakan untuk mensterilkan air dengan cara memasukkan sodium hypochlorite ke dalam air dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Sodium hypochlorite juga digunakan untuk bahan irigasi saluran akar. Penggunaan sodium hypochlorite di seluruh dunia sebagai bahan irigasi saluran akar karena kemampuannya mematikan bakteri.1

Bahan cetak dapat terjadi perubahan dimensi oleh proses sineresis, penguapan, dan imbibisi. Segera setelah cetakan dikeluarkan dari dalam mulut dan terkena udara pada temperatur ruangan, pengerutan yang berhubungan sineresis dan penguapan akan terjadi. Sebaliknya, bila cetakan direndam dalam air, pengembangan akan terjadi sebagai akibat imbibisi.2

D. Waktu Pengisian Gips

Bahan cetak alginate kehilangan air bila dibiarkan di udara terbuka sehingga terjadi pengerutan (shrinkage). Bahan cetak jika dibiarkan di udara selama 30 menit menjadi tidak akurat sehingga diperlukan pencetakan ulang lagi. Dan jika bahan cetak alginate direndam dalam air maka terjadi proses penyerapan air (Imbibisi) sehingga cetakan akan mengembung (swelling). Untuk mencapai keakuratan yang maksimal maka bahan cetak alginate harus secepat mungkin diisi.1

 

E. Klasifikasi Dental Gips2

  1. Impression Plaster(Tipe I)
  • Bahan cetak ini terdiri dari plaster of paris yang ditambahkan zat tambahan untuk mengatur waktu pengerasan dan ekspansi pengerasan.
  • Jarang digunakan lagi dalam kedokteran gigi karena telah digantikan oleh bahan yang kurang kaku seperti hidrokoloid dan elastomer
  1. Model Plaster (Tipe II)
  • Sekarang digunakan untuk mengisi kuvet dalam pembuatan protesa.
  • Biasanya dipasarkan dalam warna putih alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang umumnya berwarna.
  1. Dental Stone(Tipe III)
  • Bahan ini ditujukan untuk pengecoran dalam membentuk gigi tiruan penuh yang cocok dengan jaringan lunak.
  • Lebih disukai untuk pembuatan model yang digunakan pada konstruksi protesa, karena stone tersebut memiliki kekuatan yg cukup untuk tujuan itu serta protesa lebih mudah dikeluarkan setelah proses selesai
  1. Dental Stone High Strength (Tipe IV)
  • Merupakan modifikasi terhadap proses pembasahan bubuk hemihidrat yang menghasilkan produk yang lebih kuat.
  • Bubuk-bubuk ini memiliki kepadatan yang tinggi dan lebih kuat jika telah mengeras
  • Dental stone jenis ini digunakan untuk membuat basis die.
  1. Dental Stone High Strength High Expansion(Tipe V)
  • Merupakan produk gipsum yang dibuat akhir-akhir ini, dan memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibanding stone gigi tipe IV
  • Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan menurunkan lebih jauh rasio W : P

F. Resin Akrilik

Synthetic  Resins  yang  paling  banyak  dipergunakan di  Kedokteran Gigi  adalah acrylic resin poly (metil methacrylate).

Pada tahun 1937, resin akrilik (polimetil metakrilat) telah diperkenalkan dan dengan cepat menggantikan bahan sebelumnya (vulkanit, nitroselulosa, fenol formaldehid dan porselen). Bahan basis gigitiruan resin akrilik memiliki sifat yang menguntungkan yaitu estetik, warna dan tekstur mirip dengan gingiva sehingga estetik di dalam mulut baik, daya serap air relatif rendah dan perubahan dimensi kecil. Bahan basis gigitiruan resin akrilik dibagi atas tiga macam yaitu:3

  1. Resin akrilik polimerisasi panas (heat cured acrylic resin) adalah resin akrilik yang menggunakan proses pemanasan untuk polimerisasi.
  2. Resin akrilik swapolimerisasi (self cured acrylic resin) adalah resin akrilik yang menggunakan akselerator kimia untuk polimerisasi yaitu dimetil-para-toluidin (CH3C6H4N(CH3)). Bila dibandingkan dengan heat cured acrylic resin bahan ini memiliki stabilitas warna yang kurang.
  3. Resin akrilik polimerisasi sinar (light cured resin) adalah resin akrilik yang menggunakan sinar tampak untuk polimerisasi. Penyinaran dilakukan selama 5 menit dengan gelombang cahaya sebesar 400-500 nm sehingga memerlukan unit kuring khusus dengan menggunakan empat buah lampu halogen tungtens/ultraviolet.

 

G. Sifat-sifat Fisik Resin Akrilik

  1. Pengerutan

Ketika monomer metilmetakrilat terpolimerisasi untuk membentuk poli (metilmetakrilat), kepadatan massa bahan berubah dari 0,94 menjadi 1,19g/cm3. Perubahan menghasilkan pengerutan volumetrik sebesar 21%. Akibatnya, pengerutan volumetrik yang ditunjukkan oleh massa terpolimerisasi sekitar 6-7% sesuai dengan nilai yang diamati dalam penelitian laboratorium dan klinis.

  1. Perubahan dimensi

Pemrosesan akrilik yang baik akan menghasilkan dimensi stabilitas yang bagus. Proses pengerutan akan diimbangi oleh ekspansi yang disebabkan oleh penyerapan air. Percobaan laboratorium menunjukkan bahwa ekspansi linier yang disebabkan oleh penyerapan air adalah hampir sama dengan pengerutan termal yang diakibatkan oleh penyerapan air.

  1. Konduktivitas termal

Konduktivitas termal adalah pengukuran termofisika mengenai seberapa baik panas disalurkan melalui suatu bahan. Basis resin mempunyai konduktivitas termal yang rendah yaitu 0.0006 (0C/cm)

  1. Solubilitas

Meskipun basis gigitiruan resin larut dalam berbagai pelarut dan sejumlah kecil monomer dilepaskan, basis resin umumnya tidak larut dalam cairan yang terdapat dalam rongga mulut.

  1. Penyerapan Air

Bahan resin akrilik mempunyai sifat yaitu menyerap air secara perlahan-lahan dalam jangka waktu tertentu.7 Resin akrilik menyerap air relatif sedikit ketika ditempatkan pada lingkungan basah. Namun, air yang terserap ini menimbulkan efek yang nyata pada sifat mekanik, fisik dan dimensi polimer. Nilai penyerapan air sebesar 0.69 mg/cm2. Umumnya mekanisme penyerapan air yang terjadi adalah difusi. Difusi adalah berpindahnya suatu substansi melalui rongga yang menyebabkan ekspansi pada resin atau melalui substansi yang dapat mempengaruhi kekuatan rantai polimer. Umumnya, basis gigitiruan memerlukan periode 17 hari untuk menjadi jenuh dengan air. Dari hasil klinikal menunjukkan bahwa penyerapan air yang berlebihan bisa menyebabkan diskolorisasi.

  1. Porositas

Adanya gelembung / porositas di permukaan dan di bawah permukaan dapat mempengaruhi sifat fisis, estetik, dan kebersihan basis gigitiruan. Porositas cenderung terjadi pada bagian basis gigitiruan yang lebih tebal. Porositas disebabkan oleh penguapan monomer yang tidak bereaksi dan berat molekul polimer yang rendah, disertai temperatur resin mencapai atau melebihi titik didih bahan tersebut. Porositas juga dapat terjadi karena pengadukan yang tidak tepat antara komponen polimer dan monomer. Timbulnya porositas dapat diminimalkan dengan adonan resin akrilik yang homogen, penggunaan perbandingan polimer dan monomer yang tepat, prosedur pengadukan yang terkontrol dengan baik, serta waktu pengisian bahan ke dalam mould yang tepat.

  1. Stabilitas warna

Resin akrilik polimerisasi panas menunjukkan stabilitas warna yang baik. Yu-lin Lai dkk (2003) mempelajari stabilitas warna dan ketahanan terhadap stain dari nilon, silikon serta dua jenis resin akrilik, dan menemukan bahwa resin akrilik menunjukkan nilai diskolorisasi yang paling rendah setelah direndam dalam larutan kopi.

Secara umum resin akrilik polimerisasi panas memiliki kekuatan yang rendah baik kekuatan impak dan daya tahan terhadap fraktur. Kelemahan resin akrilik adalah mudah patah dan patahnya basis gigitiruan dapat terjadi di luar mulut yaitu jatuh pada tempat yang keras, sedangkan patah yang terjadi di dalam mulut dapat disebabkan oleh karena fatique maupun occlusal forces. patahnya basis gigitiruan dapat disebabkan oleh adaptasi dari gigi tiruan yang tidak baik, tidak adanya keseimbangan oklusi, fatique maupun jatuh.

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Anonymous. Bahan Cetak. <http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 17720/ 4/Chapter%20II.pdf>. (4 Desember 2011)
  2. Phillips. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi 10th ed, Jakarta. EGC, 2003: 103-8
  3. Anonymous. Basis Gigi Tiruan. <http://repository.usu.ac.id/bitstream/ 123456789/ 21739/4/Chapter%20II.pdf>. (4 Desember 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s