Hipersensitivitas

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Reaksi hipersensitivitas merupakan reaksi immunopatologi oleh karena respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan. Alergi atau reaksi hipersensitivitas adalah perubahan spesifik, didapat, pada reaktivitas hospes yang diperantarai oleh mekanisme imunologis dan menyebabkan respons fisiologis yang tidak menguntungkan.
Reaksi hipersensitivitas menurut Coombs dan Gell dibagi menjadi 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, dan IV. Ada beberapa penyebab timbulnya alergi, antara lain obat-obatan, makanan, hirupan (debu dan serbuk sari bunga), dan kontak kulit. Dalam laporan pemicu 2 ini, akan dibahas mengenai permasalahan yang terjadi pada seorang perempuan berumur 25 tahun yang alergi terhadap antibiotik karena riwayat antibiotikny yang tidak jelas.

 

B. Deskripsi Topik

Seorang perempuan yang berumur 25 tahun datang berobat ke dokter gigi dengan keluhan gigi geraham kanan bawah berlubang dan dijumpai ada pembengkakan. Bila gigi dikontakkan dengan gigi atas ataupun sewaktu makan terasa sakit. Hal ini sudah berlangsung selama 1 tahun, dan bila sakit dia memakan obat penahan nyeri(analgetik). Riwayat terhadap obat antibiotik tidak jelas.

Dari hasil pemeriksaan dijumpai gigi geraham bawah kanan berlubang di bagian oklusal dan dijumpai pulpa polip dan ada pembengkakan pada gingiva sekitar gigi dan pipi kanan. Oleh dokter gigi diberi resep antibiotik golongan penicilin dan analgetik. Setengah jam setelah menelan obat yang diresepkan, perempuan tersebut mengalami biduran (timbul bentol-bentol merah di kulit yang sangat gatal.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Faktor Penyebab Biduran Pada Kasus

Pada kasus terjadi reaksi imunologi yang berlebihan atau disebut dengan reaksi hipersensitivitas. Reaksi ini terjadi karena adanya kepekaan atau respon yang berlebihan terhadap antigen. Hipersensitivitas adalah respon imun yang berlebihan yang dapat merusak jaringan tubuh sendiri. Hipersensitivitas terbagi menjadi empat kelas (tipe I – IV) berdasarkan mekanisme yang ikut serta dan lama waktu reaksi hipersensitif.
Hipersensitivitas merupakan reaksi yang terjadi akibat terpajan antigen yang berulang yang menyebabkan memicu reaksi patologi. Ada beberapa ciri-ciri yang umum pada hipersensitivitas yaitu antigen dari eksogen atau endogen dapat memicu reaksi hipersensitivitas, penyakit hipersensitivitas biasanya berhubungan dengan gen yang dimiliki setiap orang, reaksi hipersensitivitas mencerminkan tidak kompaknya antara mekanisme afektor dari respon imun dan mekanisme kontrolnya.1

Pada dasarnya tubuh kita memiliki imunitas alamiah yang bersifat non-spesifik dan imunitas spesifik ialah sistem imunitas humoral yang secara aktif diperankan oleh sel limfosit B, yang memproduksi 5 macam imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE) dan sistem imunitas seluler yang dihantarkan oleh sel limfosit T, yang bila mana ketemu dengan antigen lalu mengadakan diferensiasi dan menghasilkan zat limfokin, yang mengatur sel-sel lain untuk menghancurkan antigen tersebut.2

Bilamana suatu alergen masuk ke tubuh, maka tubuh akan mengadakan respon. Bilamana alergen tersebut hancur, maka ini merupakan hal yang menguntungkan, sehingga yang terjadi ialah keadaan imun. Tetapi, bilamana merugikan, jaringan tubuh menjadi rusak, maka terjadilah reaksi hipersensitivitas atau alergi.2

Diperkirakan pasien memiliki hipersensitivitas terhadap antibiotik golongan penicilin, karena pasien memiliki riwayat yang tidak jelas terhadap obat antibiotik.Penicillin adalah sebuah kelompok antibiotika β-laktam yang digunakan dalam penyembuhan penyakit infeksi karena bakteri, biasanya berjenis Gram positif. Penicilin kontra indikasi bagi yang memiliki hipersensitivitas, karena memiliki efek samping reaksi alergi berupa urtikaria, diare, syok anafilaktik, dan nyeri sendi.3

 

B. Mekanisme Terjadi Biduran

Pada gangguan urtikaria menunjukkan adanya dilatasi pembuluh darah dermal di bawah kulit dan edema (pembengkakan) dengan sedikit infiltrasi sel perivaskular, di antaranya yang paling dominan adalah eosinofil. Kelainan ini disebabkan oleh mediator yang lepas, terutama histamin, akibat degranulasi sel mast kutan atau subkutan, dan juga leukotrien dapat berperan.

Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel, terutama eosinofil, keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit lokal. Cairan serta sel yang keluar akan merangsang ujung saraf perifer kulit sehingga timbul rasa gatal. Terjadilah bentol merah yang gatal.

 

C. Tipe Hipersensitivitas dan Mekanismenya

            Hipersensitivitas memiliki empat tipe, yaitu:

  1. Tipe I : Anafilaktik

Merupakan alergi yang berlangsung cepat dan melibatkan IgE. Adanya alergen pada kontak pertama menstimulasi sel B untuk memproduksi IgE, kemudian masuk ke aliran darah & berikatan dengan reseptor di mast cell dan basofil, sehingga mast cell dan basofil menjadi tersensitisasi. Pada kontak kedua, alergen akan berikatan dengan IgE yang berikatan dengan antibodi di mast cell dan menyebabkan terjadinya granulasi yang akan melepaskan mediator histamin/bradikinin yang akan menyebabkan alergi.

  1. Tipe II : Cytotoxic

Merupakan tipe alergi yang meracuni sel tubuh. Melibatkan IgG dan IgM yang tijukan kepada antigen yang ada dipermukaan sel/jaringan. Ag melekat pada permukaan sel à dikirimkan antibodi yang bersifat patogenik à terjadi kompleks antigen-antibodi dipermukaan sel yang akan dihancurkan oleh sel efektor (makrofag, neutrofil, monosit, sel NK) à menyebabkan kerusakan sel itu sendiri.

  1. Tipe III: Immune Complex.

Pada tipe ini juga melibatkan IgG dan IgM, namun ditujukan kpd Ag yang ada/terlarut dalam serum. Ag bereaksi dengan antibodi membentuk kompleks antigen-antibodi yang akan menimbulkan reaksi inflamasi. Aktivasi sistem komplemen menyebabkan pelepasan berbagai mediator oleh mast cell. Selanjutnya terjadi vasodilatasi dan akumulasi PMN yang akan menghancurkan kompleks.

  1. Tipe IV: Cell mediated

Tipe ini berbeda dengan tipe I, II, III, karena pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau yang dikenal dengan imunitas seluler, dan tidak melibatkan imunoglobulin. Limfosit T bereaksi dengan antigen dan menyebabkan terlepasnya mediator limfokin.

 

  • Pada kasus termasuk jenis hipersensitivitas tipe I, karena proses terjadinya berlangsung sangat cepat yaitu berkisar antara 15-30 menit setelah terpapar dengan antigen.
  • Gambaran klinis yang dapat dialami oleh pasien pada tipe hipersensitivitas tipe I adalah urtikaria (erupsi pada kulit yang berbatasan tegas dan menimbulkan bentol, berwarna merah, memutih bila ditekan, dan menimbulkan rasa gatal), angiodema (pembengkakan pada jaringan secara tiba-tiba), bronkospase (kontraksi yang lama pada jalan napas), diare, muntah, dan anafilaksis.

 

D. Gambaran Histopatologi

Gambaran histopatologi akibat reaksi hipersensitivitas dari kasus tersebut dapat terlihat adanya:

  1. Polimorfonuklear leukosit
  2. Hiperemia à penumpukan darah pada pembuluh darah kapiler yang melebar.
  3. Kapiler darah melebar (dilatasi kapiler)

Hal  tersebut dapat terjadi karena dilepaskannya mediator histamin yang menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas kapiler, dan kontraksi otot polos.

E. Tindakan Pencegahan

Tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi gatal-gatal seperti kasus tersebut adalah:

  1. Tanyakan kepada pasien tentang riwayat alergi pasien. Apa saja yang dapat menjadi faktor timbulnya alergi pada pasien. Jika pasien tidak mengetahui riwayat alerginya, maka dapat diberikan obat yang sesuai dengan penyakit pasien, dengan anjuran untuk kembali jika terjadi alergi atau perintah untuk menghentikan konsumsi obat.
  2. Mengadakan skin test untuk mengetahui hipersensitivitas pasien apalagi riwayat antibiotik pasien yang tidak jelas. Skin test dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab alergi. Bila terjadi benjolan merah menunjukkan respon positif. Tidak semua respon positif ditunjukkan dengan respon atopi (merah dan bengkak). Oleh karena itu biasanya dilakukan pengukuran julah IgE dengan modifikation of enzyme immunoessay (ELISA) setelah penyuntikan alergi.

 

F. Penangann Selanjutnya

Penanganan selanjutnya pada kasus yang terjadi adalah :

  1. Hentikan pemakaian obat, agar alergi tidak berlanjut.
  2. Ganti obat yang digunakan
  3. Memberikan anti histamin (anti alergi), seperti CTM
  4. Memberikan vitamin untuk mengembalikan dan menambah daya tahan tubuh pasien
  5. Melakukan skin test untuk mengetahui tingkat keparahan alergi dan untuk mengetahui penyebab terjadinya alergi.

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan dan Saran

Hipersensitivitas merupakan suatu bentuk respon tubuh yang berlebihan terhadap antigen yang masuk ke tubuh. Hipersensitivitas memiliki 4 tipe yang berbeda, yaitu hipersensitivitas tipe I (anafilaktik) yang merupakan alergi dengan reaksi cepat dan diperantarai oleh IgE, tipe II (cytotoksis) yang merupakan alergi yang meracuni tubuh dan diperantarai oleh IgM dan IgG, tipe III (immune complex) yang membentuk kompleks antigen-antibodi dan diperantarai oleh IgG dan IgM, dan tipe IV (cell delayed) yang merupakan alergi dengan reaksi lambat dan diperantarai oleh limfosit T. Seorang dokter sebaiknya tidak sembarangan dalam melakukan pemberia obat, karena kondisi tubuh pasien tidak semuanya sama. Sebelum memberikan obat, sebaiknya dipastikan pasien memiliki alergi atau tidak, agar kondisi pasien tidak bertambah parah akibat alergi dari obat yang diberikan. Seorang dokter juga perlu selalu menyediakan anti histamin (anti alergi) untuk mengantisipasi dan untuk memberikan pertolongan segera pada pasien yang alergi.

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Wanenoor. Hipersensitivitas. <http://id.shvoong.com/medicine-and-health/ imuunology/2140486-hipersensitivitas/>. (11 Juni 2011)
  2. Funny. Reaksi Hipersensitivitas. <http://urangbanua85.blogspot.com/2008/11/reaksi-hipersensitivitas.html&gt;. (11 Juni 2011)
  3. Anonymous. Penicillin.  <http://id.wikipedia.org/wiki/Penisilin&gt;. (11 Juni 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s