Ekspoliatif Sitologi

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Para ilmuwan kedokteran telah berusaha menanggulangi kanker dan mencari terapi yang tepat, tetapi sampai saat ini hasil terapi belum memuaskan karena belum merupakan terapi yang tuntas terutama apabila kanker telah berkembang mencapai stadium lanjut. Terapi kanker memberi hasil baik apabila dilakukan pada stadium dini. Dewasa ini tindakan paling efektif untuk melawan kanker adalah melakukan pencegahan primer serta deteksi penyakit sedini mungkin, kemudian segera diberikan terapi adekuat. Dengan cara ini angka kematian dan penderitaan akibat kanker dapat dikurangi. Diagnosis pasti penyakit kanker ditentukan oleh hasil pemeriksaan patologi anatomik. Dasar pemeriksaan patologi anatomik adalah pemeriksaan mikroskopik terhadap perubahan .sel atau jaringan organ tubuh akibat penyakit. Terdapat dua jenis pemeriksaan patologi anatomik yaitu pemeriksaan histopatologi dan sitologi. Pemeriksaan histopatologi bertujuan memeriksa jaringan tuhuh. sedangkan pemeriksaan sitologi memeriksa kelompok sel penyusun jaringan tersebut. Pemeriksaan histopatologi merupakan diagnosis pasti (gold standard), sedangkan pemeriksaan sitologi mampu memeriksa sel kanker sebelum tindakan bedah sehingga bermanfaat untuk deteksi pertumbuhan kanker, bahkan sebelum timbul manifestasi klinik penyakit kanker.          1

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

          Pada mukosa mulut dapat ditemukan lebih kurang 200 macam penyakit yang secara klinik memberikan gambaran yang hampir serupa satu sama lain, sehingga para klinisi memerlukan suatu informasi yang rasional untuk menetapkan diagnosisnya. Salah satu alternatif ialah dengan menggunakan teknik sitologi eksfoliatif. Pemeriksaan eksfoliatif sitologi mulut adalah menganalisa sel permukaan rongga mulut yang terlepas. Sebagian besar sel normal mukosa mulut terdiri dari epitel berlapis gepeng yang disertai atau tanpa keratin. Sel normal mukosa mulut secara rutin akan mengalami deskwamasi dan akan digantikan oleh sel yang baru karena adanya aktifitas mitotik pada lapisan basal epitel. Bila pada mukosa mulut berkembang suatu lesi, sel-selnya lebih mudah dilepaskan. Apabila kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopik dapat dipelajari berbagai perubahan yang terjadi pada sel-sel tersebut, sehingga diagnosis dari suatu penyakit dapat ditentukan. Teknik ini disebut dengan sitologi ekspoliatif. Sedangkan pengertian sitologi adalah ilmu yang mempelajari sel secara mikroskopik, baik sel normal maupun abnormal.Dibidang kedokteran gigi, sitologi ekspoliatif dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai lesi yang dicurigai sebagai suatu keganasan.2

 

A. Manfaat dan Keuntungan Eksfoliatif Sitologi

Metode pemeriksaan eksfoliatif sitologi memiliki berbagai keuntungan serta memberikan manfaat bagi pasien maupun dokter gigi dibandingkan dengan biopsi, yaitu :

Keuntungan :3

  • Tidak menggunakan anestesi
  • Pengambilan jaringan adalah sel-sel yang terlepas secara fisiologi
  • Pemeriksaan hanya pada lesi epitel saja

 

Manfaat bagi pasien :3

  • Secara psikologis lebih mudah diterima dibandingkan biopsi sebab prosedur klinisnya lebih sederhana
  • Tidak membuat luka dan tidak menakutkan bagi pasien
  • Relatif tidak mahal
  • Metoda diagnosa yang cepat dan mudah
  • Dapat diinterpretasikan dalam waktu cepat

 

Manfaat bagi Dokter Gigi :3

  • Komplikasi pekerjaan tidak ada
  • Mudah melakukannya, baik di klinik maupun di praktik.
  • Pasien tidak merasa sakit.

 

B. Indikasi Pemeriksaan Sitologi Mulut


Indikasi Pemeriksaan Sitologi Mulut:4

  • Kasus yang diduga sebagai karsinoma epidermoid
  • Kasus yang melibatkan daerah luas pada mukosa
  • Lesi yang menutupi daerah multipel dari mukosa sehingga membutuhkan banyak biopsi insisional untuk menentukan tingkat perubahan patologis
  • Lesi permukaan yang telah dirawat radiasi sehingga bila dilakukan biopsi menyebabkan ulserasi yang menetap dan osteoradionekrosis
  • Pasien yang menolak biopsi atau berisiko untuk tindakan bedah
  • Kasus yang tidak direncanakan untuk dilakukan biopsi
  • Lesi eritematus yang penampilannya tidak berbahaya

 

C. Metode Pengambilan Eksfoliatif Sitologi Mulut

  1. Imprint3
  • Cara ini dilakukan terhadap lesi yang letaknya ada dipermukaan dan mudah dijangkau, misalnya seperti ujung lidah dan mukosa bibir.
  • Lesi dibersihkan dengan larutan normal saline
  • Objek glas yang telah diberikan nomor kode ditempelkan ke lesi.
  • Lesi yang diambil adalah lesi permukaan
  • Objek glas dibiarkan sebentar
  • Fiksasi dengan alkohol 96%
  • Kirim ke laboratorium PA
  1. Kapas Lidi4
  • Lesi dibersihkan dengan larutan Normal Saline
  • Selanjutnya dengan kapas lidi steril, ambil sedimen lesi dengan cara berputar dari mulai ujung atas  sampai ke ujung bawah object glass.
  • Pemindahan sedimen ke object glass harus rata, tipis dan tidak berulang-ulang.
  • Selanjutnya preparat object glass  siap untuk difiksasi.
    • Kirim ke Laboratorium PA
  1. Cytobrush4
  • Pengunaan teknik ini merupakan suatu teknik modern sitologi eksfoliasi rongga mulut yang khusus didesain secara tersendiri dari bulu sikat berbentuk sirkuler.
  • Dibandingkan dengan keempat cara sitologi sebelumnya di atas, penggunaan teknik ini lebih memberikan akurasi yang tinggi mencapai 90%, karena dapat mengambil seluruh lapisan epitel termasul lapisan basal sel.
  • Lesi dibersihkan dengan Normal saline.
  • Sedimen yang diambil dengan menggunakan teknik ini adalah dengan cara memberus secara berputar 360o.
  • Kemudian sedimen yang ada pada cytobrush diberuskan ke atas object glass secara berputar mulai dari ujung kaca slide paling atas sampai ke ujung yang paling bawah.
  • Selanjutnya dapat dilakukan fiksasi.
  • Kirim ke Laboratorium PA
  1. Smear/Spatel4
  • Lesi dibersihkan dengan Normal Saline.
  • Lesi diskraping dengan spatula kayu atau cement spatle, kemudian sedimen lesi dipindahkan ke object glass secara paralel dan digerakkan dengan cara menarik spatula dari ujung atas sampai dengan ujung bawah object glass.
  • Selanjutnya preparat ini siap untuk difiksasi.
  • Kirim ke Laboratorium PA
  1. Kumur-kumur3
  • Dilakukan pada lesi yang banyak dan luas
  • Kumur-kumur dengan Normal saline
  • Air kumur-kumur tersebut di sentrifuge dengan kecepatan 2000 rpm selama 20 menit.
  • Endapan ditransfer ke objek glas
  • Fiksasi dengan alkohol 96 %
    • Kirim ke Laboratorium PA

 

D. Kontraindikasi Pemeriksaan Sitologi Mulut

Kontraindikasi Pemeriksaan Sitologi Mulut

  • Kasus yang sudah dapat dipastikan merupakan kanker
  • Lesi keratotik
  • Lesi yang letaknya di dalam dan tidak berhubungan dengan permukaan mukosa
  • Lesi dengan permukaan nekrosis yang luas
  • Lesi yang tidak dapat atau memungkinkan untuk diperoleh spesimen yang adekuat seperti homogenus leukoplakia
  • Lesi-lesi eksofitik yang permukaannya luas, lesi submukosa, lesi pigmentasi tidak berulkus

 

E. Klasifikasi Papanicolaou

Klasifikasi Papanicolaou :5

  • Pap I    : Sel normal
  • Pap II  : Sel abnormal dengan batas jinak
  • Pap III : Sel abnormal yang masih diragukan keganasannya
  • Pap IV : Suspek ganas (sel sedikit)
  • Pap V  : Suspek ganas (banyak)

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan dan Saran

Eksfoliatif sitologi mulut adalah menganalisa sel permukaan rongga mulut yang terlepas. Bertujuan untuk mendeteksi dini lesi prekanker dan kanker rongga mulut. Pemeriksaan epitel lepas berbeda dengan biopsi pemeriksaan patologi screening. Eksfoliatif sitologi mulut ini memiliki beberapa manfaat dan keuntungan untuk dokter gigi maupun untuk pasien. Tetapi metoda pemeriksaan eksfoliatif sitologi mulut juga memiliki kontrainsikasi, yaitu salah satunya pada pengambilan lesi yang dalam, terlalu jauh, sulit dijangkau, dan pada daerah yang berbahaya, seperti pembuluh darah, karena pemeriksaan eksfoliatif sitologi hanya untuk lesi sipermukaan seperti lidah dan ujung bibir. Dikenal beberapa teknik oral sitologi berupa: kapas lidi, imprint, smear/spatel, kumur-kumur, dan cytobrush.

Teknik sitologi eksfoliatif perlu dikembangkan penerapannya di bidang kedokteran gigi sebagai pemeriksaan rutin, mengingat teknik ini mudah dilakukan, relatif murah, tidak menimbulkan rasa takut pada pasien dan akurasinya dapat dipercaya. Di bidang kedokteran gigi perlu dikembangkan penggunaannya, tidak terbatas pada jaringan lunak mulut, tetapi digunakan pula untuk lesi-lesi yang berhubungan dengan jaringan keras rongga mulut seperti lesi periapikal.

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Tjahjono. Deteksi Dini Kanker. <http://eprints.undip.ac.id/264/1/Tjahjono.pdf>. (3 Oktober 2011)
  2. Karaton NR. Gambaran sitologik lesi erosif /ulseratif mukosa mulut. <http://eprints.lib.ui.ac.id/12597/>. (3 Oktober 2011)
  3. Slide kuliah Eksfoliatif Sitologi Mulut.
  4. Haantjes D. Sitologi/Sitodiagnosis. <http://potooloodental.blog.com/?p=243>. (3 Oktober 2011)
  5. Buku panduan praktikum patologi anatomi blok 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s