Farmakologi : Anestesi Lokal

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

 

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kontrol nyeri sangat penting dalam praktek operasi kedokteran gigi. Kontrol nyeri yang baik akan membantu operator dalam melakukan operasi dengan hati-hati, tidak terburu-buru, tidak menjadi pengalaman operasi yang buruk bagi pasien dan dokter bedah. Sebagai tambahan pasien yang tenang akan sangat mambantu bagi seorang dokter gigi. Operasi dentoalveolar dan prosedur operasi gigi minor lainnya yang dilakukan pada pasien rawat jalan sangat tergantung pada anestesi lokal yang baik.

Menurut istilah, anestesi local (anestesi regional) adalah hilangnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu tanpa disertai dengan hilangnya kesadaran. Anestesi local merupakan aplikasi atau injeksi obat anestesi pada daerah spesifik tubuh, kebalikan dari anestesi umum yang meliputi seluruh tubuh dan otak. Local anestesi memblok secara reversible pada system konduksi saraf pada daerah tertentu sehingga terjadi kehilangan sensasi dan aktivitas motorik.

Untuk menghasilkan konduksi anestesi, anestesi local diinjeksikan pada permukaan tubuh. Anestesi lokal akan berdifusi masuk ke dalam syaraf dan menghambat serta memperlambat sinyal terhadap rasa nyeri, kontraksi otot, regulasi dari sirkulasi darah dan fungsi tubuh lainnya. Biasanya obat dengan dosis atau konsentrasi yang tinggi akan menghambat semua sensasi (nyeri, sentuhan, suhu, dan lain-lain) serta kontrol otot. Dosis atau konsentrasi akan menghambat sensasi nyeri dengan efek yang minimal pada kekuatan otot.

Anestesi local dapat memblok hampir setiap syaraf antara akhir dari syaraf perifer dan system syaraf pusat. Teknik perifer yang paling bagus adalah anestesi local pada permukaan kulit atau tubuh.1

Anestesi lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup obat ini bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Sebagai contoh, bila anestesi lokal dikenakan pada korteks motoris, impuls yang dialirkan dari daerah tersebut terhenti, dan bila disuntikkan ke dalam kulit, maka transmisi impuls sensorik dihambat.2

 

PELAKSANAAN

Alat dan Bahan yang digunakan:

Bahan kimia :

–          Larutan anestesi lokal (Procain HCL 2%, Lidocain HCL 2%)

Alat-alat :

–          Kapas

–          Jarum injeksi

–          Beaker gelas

–          Lampu bunsen

–          Jarum untuk penusuk

–          Sonde

–          Jam

 

Teknik Pelaksanaan :

1.      Mahasiswa sukarela sebanyak 1 orang pada setiap kelompok mendapat suntikan 0.2 cc larutan anestesi lokal secara intrakutan.

2.      Pada daerah yang dianestesi akan membentuk garis menengah 5 mm.

3.      Setelah dilakukan injeksi, maka dilakukan observasi terhadap sensasi :

–          Panas

–          Sakit

–          Perabaan

–          Penekanan

4.      Observasi terhadap sensasi dilakukan setiap 5 menit selama 60 menit.

5.      Catat hasilnya dengan memberi tanda + bila mahasiswa praktikan merasakan sensasi terhadap daerah yang diinjeksi, dan tanda – bila mahasiswa praktikan tidak merasakan sensasi.

 

PEMBAHASAN

Anestetik Lokal

Anestetik lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Sebagai contoh, bila anestetik lokal dikenakan pada korteks motoris, impuls yang dialirkan dari daerah tersebut terhenti, dan bila disuntikkan ke dalam kulit maka transmisi impuls sensorik dihambat. Pemberian anestetik lokal pada batang saraf menyebabkan paralisis sensorik dan motorik di daerah yang dipersarafinya. Banyak macam zat yang dapat mempengaruhi hantaran saraf, tetapi umumnya tidak dapat dipakai karena menyebabkan kerusakan permanen pada sel saraf. Paralisis saraf oleh anestetik lokal bersifat reversible, tanpa merusak serabut atau sel saraf.

Anestetik lokal yang pertama ditemukan ialah kokain, suatu alkaloid yang terdapat dalam daun Erythroxylon coca, semacam tumbuhan belukar.

Anestetik lokal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen. Kebanyakan anetetik lokal memenuhi syarat ini. Batas keamanan harus lebar, sebab anestetik lokal akan diserap dari tempat suntikan. Mula kerja harus sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak demikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan. Zat anestetik lokal juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.

Kimia dan Hubungan Struktur Aktivitas

Struktur dan sifat fisiokimia sangat berpengaruh terhadap aktivitas anestesi lokal. Sifat hidrofobik anestesi lokal akan meningkatkan potensi dan lama kerjanya karena suasana hidrofobik akan meningkatkan jumlah partikel di tempat kerjanya dan menurunkan kecepatan metabolisme yang diperantarai oleh esterase plasma dan enzim hati.

Secara umum anestesi lokal mempunyai rumus dasar yang terdiri dari 3 bagian: gugus amin hidrofil yang berhubungan dengan gugus residu aromatik lipofilik melalui suatu gugus antara. Gugus amin selalu berupa amin tersier atau amin sekunder. Gugus antara dan gugus aromatik dihubungkan dengan ikatan amid atau ikatan ester. Maka secara kimia, anestesi lokal digolongkan atas senyawa ester dan senyawa amid. Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anestetik lokal sebab pada gugus degradasi dan inaktivasi di dalam bagian, gugus tersebut akan di hidrolisis. Karena itu golongan ester umumnya kurang stabil dan mudah mengalami metabolisme dibandingkan dengan golongan amid. Anestetik lokal yang tergolong dalam senyawa ester ialah tetrakain, benzokain, dan prokain dengan prokain sebagai prototip. Sedangkan yang tergolong dalam senyawa amid ialah dibukain, lidokain, bupivakain, mapivakain, dan prilokain.

Mekanisme Kerja

Anestetik lokal mencegah pembentukan dari konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di membran sel, efeknya pada aksoplasma hanya sedikit saja.

Sebagaimana diketahui, potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan sesaat permeabilitas membrane terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membrane. Proses fundamental inilah yang dihambat oleh anestetik lokal; hal ini terjadi akibat adanya interaksi langsung antara zat anestetik lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya perubahan voltase muatan listrik. Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di dalam saraf, maka ambang rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor pengaman konduksi saraf juga berkurang. Faktor- faktor ini akan mengakibatkan penuruan menjalarnya potensial aksi dan dengan demikian mengakibatkan kegagalan saraf.

Anestetik lokal juga menghambat permeabilitas membran bagi K+ dan Na+ dalan keadaan istirahat, sehingga hambatan hantaran tidak disertai banyak perubahan pada potensial istirahat. Hasil penelitian membuktikan bahwa anestesi lokal menghambat hantaran saraf tanpa menimbulkan depolarisasi saraf, bahkan ditemukan hiperpolarisasi ringan. Pengurangan permeabilitas membran dan anesetik lokal juga timbul pada otot rangka, baik waktu istirahat maupun waktu terjadinya potensial aksi.

Potensial berbagai zat anestetik lokal sejajar dengan kemampuannya untuk meninggikan tegangan permukaan selaput lipid monomolecular. Mungkin sekali anestetik lokal meninggikan tegangan permukaan lapisan lipid yang merupakan membran sel saraf, dengan demikian menutup pori dalam membran sehingga menghambat gerak ion melalui membran. Hal ini menyebabkan penuruan permeabilitas membran dalam keadaan istirahat sehingga akan membatasi peningkatan permeabilitas Na+. Dapat dikatakan bahwa cara kerja utama obat anestetik lokal ialah bergabung dengan reseptor spesifik yang terdapat pada kanal Na, sehingga mengakibatkan terjadinya blokade pada kanal tersebut, dan hal ini akan mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui membran.

Lidokain sebagai Bagian dari Anestesi Lokal Sintetik

Farmakodinamik

Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topical dan suntikan. Anesthesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan prokain pada konsentrasi yang sebanding. Lidokain merupakan aminoetilamid dan merupakan prototip dari anestetik lokal golongan amida. Larutan lidokain 0,5 % digunakan untuk anesthesia infiltrasi, sedangkan lauran 1,0-2% untuk anesthesia blok dan topikal. Anestetik ini efektif bila digunakan tanpa vasokonstriksor, tetapi kecepatan absorpsi dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Lidokain merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap anestetik lokal golongan ester. Lidokain dapat menimbulkan kantuk.

Farmakokinetik

Lidokain cepat diserap dari tempat suntikan, saluran cerna dan saluran pernapasan serta dapat melewati sawar darah otak. Kadarnya dalam plasma fetus dapat mencapai 60% kadar dalam darah ibu. Dalam hati, lidokain mengalami dealkilasi oleh enzim oksidase, fungsi ganda membentuk monoetilglisin dan xilidid maupun glisin xilidid, yang kemudian dapat dimetabolisme lebih lanjut menjadi monoetilglisin dan xilidid. Kedua metabolit monoetilglisin xilidid maupun glisin xilidid ternyata masih memiliki efek anestetik lokal. Pada manusia, 75% dari xilidid akan diekskresi bersama urin dalam bentuk metabolit akhir, 4 hidroksi-2-6 dimetil-anilin.

Efek samping

Efek samping lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, koma, dan bangkitan. Mungkin sekali metabolit lidokain yaitu monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid ikut berperan dalam timbulnya efek samping ini.

Lidokain dosis berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung.

Indikasi

Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk anesthesia infiltrasi, blokade saraf, anesthesia spinal, anesthesia epidural ataupun anesthesia kaudal, dan secara setempat untuk anesthesia selaput lendir. Pada anesthesia infiltrasi biasanya digunakan larutan 0,25-0,50% dengan atau tanpa epinefrin. Tanpa epinefrin dosis total tidak boleh melebihi 200 mg dalam waktu 24 jam, dan dengan epinefrin tidak boleh melebihi 500 mg untuk jangka waktu yang sama. Dalam bidang kedokteran gigi, biasanya digunakan larutan 1-2% dengan epinefrin; untuk anesthesia infiltrasi dengan mula kerja 5 menit dan masa kerja kira- kira 1 jam dibutuhkan dosis 0,5-1,0 mL. Untuk blockade saraf digunakan 1-2 mL.

Lidokain dapat pula digunakan unutuk anesthesia permukaan. Untuk anesthesia rongga mulut, kerongkongan dan saluran cerna bagian atas digunakan larutan 1-4% dengan dosis maksimal 1 gram sehari dibagi dalam beberapa dosis. Pruritus di daerah anogenital atau rasa sakit yang menyertai wasir dapat dihilangkan dengan supositoria atau bentuk salep dan krim 5%. Untuk anesthesia sebelum dilakukan tindakan sistoskopi atau kateterisasi uretra digunakan lidokain gel 2% dan sebelum dilakukan bronkoskopi atau pemasangan pipa endotrakeal biasanya digunakan  semprotan dengan kadar 2-4%

Aritmia Jantung

Lidokain juga dapat menurunkan iritabilitas jantung, karena itu juga digunakan sebagai aritmia.

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosiceptorr, secara anatomis reseptor nyeri (nosiceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer. Berdasarkan letaknya, nosieptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. Nosiceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan.

Pada percobaan yang telah dilakukan, licocain yang diinjeksikan mulai berkurang keaktifannya pada menit ke 20 dan sensasi pertama yang dirasakan adalah sentuhan.

 

KESIMPULAN

Pada dasarnya, anestesi terbagi dua menjadi anestesi lokal dan anestesi umum. Akan tetapi, anestesi lokal lebih sering digunakan karena memiliki tingkat keselamatan yang lebih tinggi daripada anestesi umum. Anestetik lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap bagian susunan saraf.

Salah satu contoh obat anestesi lokal yang sering digunakan adalah lidokain. Lidokain diberikan secara suntikan dan cepat diabsorbsi oleh saluran pernapasan maupun saluran cerna. Dan sebagaimana obat yang memiliki kandungan zat kimia, lidokain pun tak lepas dari efek samping, yang di antaranya adalah mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, koma, dan bangkitan.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Ebong. Makalah Anestesi Lokal Maksila. 6 Mei 2009. http://www.myspace.com/restiebongschizoprenz/blog/487522508. (24 Maret 2011).

2.      Sunaryo. Kokain dan Anestetik Lokal Sintetik. Dalam : ed. Ganiswarna SG. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru, 1995: 234-47.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s