Komunikasi Dokter dengan Orang Tua Pasien Anak

BLISA NOVERTASARI .S

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA 2010

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komunikasi merupakan kunci utama dalam keberhasilan dokter gigi dalam melakukan perawatan gigi. Komunikasi yang baik akan menimbulkan respon yang baik dari pasien sehingga mengakibatkan kelancaran dalam perawatan serta dalam kunjungan-kunjungan berikutnya. Komunikasi tersebut termasuk didalamnya adalah wawancara medis antara dokter-pasien. Dengan diadakannya wawancara, maka dokter dapat memperkuat diagnosa, memahami keluhan pasien, dan empati terhadap penderitaan pasien. Walaupun teknologi komunikasi telah berkembang, teknologi komunikasi personal dalam wawancara medis tetap berguna dan efektif dalam mengumpulkan data. Selain itu, dengan komunikasi personal mampu memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Makalah ini dibuat dengan maksud untuk memberikan informasi tentang teknik wawancara yang baik bagi seorang dokter, dan bertujuan agar dokter dapat bersikap selayaknya seorang dokter yang baik dalam menghadapi pasien, sehingga bermanfaat dalam kelancaran perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Dual Patient / Triad of Concern

Pada saat wawancara medis pasien anak, tidak hanya anak yang memberikan informasi, tetapi orang tuanya juga, sehingga disebut dual patient. Kedudukan anak disini sebagai individu yang sakit sekaligus sebagai anggota keluarga. Dokter membutuhkan informasi keduanya untuk melengkapi data yang diperlukan dan untuk memperkuat diagnosis. Dengan dual patient, dokter dapat memperhatikan anak dan orang tuanya sekaligus. Misalnya pada saat dokter mendapat pasien anak yang berumur tiga tahun, dokter dapat berkomunikasi dengan anak dan orang tua untuk mengetahui akan sakitnya. Tidak hanya itu, dokter juga dapat mengetahui bagaimana perkembangan komunikasi anak dan bagaimana kedekatan hubungan anak dengan orang tua, sehingga dokter dapat menilai dominasi orang tua terhadap anak.

Selain orang tua, dokter juga dapat melibatkan sanak saudara lain dari pasien anak tersebut untuk mencari keterangan yang akurat. Hal ini disebut dengan multi patient. Kondisi tersebut biasanya terjadi untuk anak yang memiliki orang tua yang terlalu sibuk dan menyerahkan anak sepenuhnya pada saudaranya atau baby sitter. Situasi ini dapat terlihat saat dokter mewawancarai orang tua anak. ia tidak mengetahui penyebab dan kapan tepatnya anaknya sakit.

 

B. Teknik Wawancara dengan Orang Tua

Beberapa hal yang perlu ditekankan pada saat wawancara dokter dengan orang tua anak, yaitu:

1. Mendengarkan

Seorang dokter harus mampu menjadi pendengar yang baik bagi orang tua anak yang dapat ditunjukkan melalui kata-kata ataupun bahasa tubuh, misalnya dengan cara duduk kita yang condong ke depan, menatap mata, menunjukkan perhatian, dan merespon semua kata-kata pasien baik yang verbal maupun nonverbal. Pada wawancara dengan orang tua dan anak, komunikasi nonverbal harus diperlakukan sama dengan komunikasi verbal. Memberikan jeda waktu juga diperlukan untuk orang tua agar dapat menceritakan dan memberitahukan tentang riwayat penyakit yang diderita anaknya. Seorang dokter tidak disarankan untuk wawancara saat pemeriksaan fisik, karena akan mengurangi kontak mata antara pasien dan dokter, kecuali jika dokter menemukan keganjilan saat pemeriksaan fisik.

 

2. Memfasilitasi Dialog

Seorang dokter harus mampu mendengarkan cerita orang tua dengan penuh empati tanpa menginterupsi, merubah pokok bahasan pembicaraan, atau langsung menghakimi pasien. Seorang dokter juga jangan memberikan diagnosa terlalu dini sebelum orang tua selesai bercerita agar tidak mempengaruhi orang tua. Pada saat wawancara juga tidak jarang pasien ingin bercerita sebanyak-banyaknya tentang penyakitnya, padahal dokter ingin membuat diagnose secepatnya. Oleh karena itu seorang dokter juga perlu mengarahkan jalannya wawancara. Adapun strategi untuk melakukan wawancara medis dengan orang tua, yaitu :

a.       Mengetahui alasan mereka pergi kedokter (untuk mencari keluhan utama).

Tanyakan mengapa mereka membawa anaknya kepada anda. Apa yang menjadi keluhan utama mereka.Seorang dokter harus menghargai dan memperhatikan keluhan yang disampaikan oleh orang tua, walaupun terkadang keluhan tersebut diceritakan dengan kata yang tidak umum, dan janganlah menggunakan istilah medis karena kurang bermanfaat terhadap pemahamannya.

b.      Mengetahui harapan orang tua.

Tanyakan kepada mereka tentang apa yang mereka harapkan dari kunjungan yang dilakukan. Sehingga kita dapat mengetahui hal-hal yang menjadi harapan orang tua tersebut. Stelah harapan orang tua diketahui, maka akan mempermudah dokter dan orang tua dalam pengambilan keputusan untuk tindakan selanjutnya.

c.       Menuntun dalam melakukan wawancara dan tidak mendominasi.

Dokter tidak dibenarkan untuk mendominasi pembicaraan saat wawancara, tapi sangat dianjurkan untuk dapat menjadi pendengar yang baik bagi orang tua. Tuntunan dokter saat wawancara sangat penting agar arah pembicaraan tidak keluar dari tujuan semula.

3. Sopan Santun

Seorang dokter diharapkan mampu menerapkan sikap sopan santun umum kepada pasien dan orang tuanya, termasuk sikap peduli agar orang tua merasa senang, yaitu dengan situasi yang bersahabat dan professional, bukan suasana yang kaku.

4. Bicara  Dengan Anak

Komunikasi dengan anak dapat dilakukan diawal pertemuan. Dengan adanya komunikasi dan interaksi awal yang baik, maka akan menciptakan hubungan yang baik pula antara pasien dan dokter. Disamping itu, dokter juga dapat melakukan diagnosa awal melalui kontak fisik yang dilakukan, misalnya dengan salaman atau kontak mata. Perilaku komunikasi antara dokter dengan anak sering dijadikan contoh bagi orang tua tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan yang baik.

 

5. Bila Menghadapi Penyakit yang Akut

Saat menghadapi pasien yang memiliki penyakit yang akut, sebaiknya dokter lebih memfokuskan wawancara pada penyakit yang dideritanya. Tidak dibenarkan seorang dokter untuk berkomentar tentang tindakan yang dilakukan orang tua saat awal wawancara. Komentar diberikan saat orang tua telah tenang dan diagnosa serta tindakan telah dilakukan, yaitu pada tahap konseling.

Ketika mewawancarai pasien dengan penyakit akut, sebaiknya dokter berdiri didekat pasien agar dokter dapat lebih merasakan perasaan pasien. Setelah wawancara awal selesai dan orang tua mulai tenang, dokter dapat memberitahukan dan menjelaskan tentang penyakit anaknya dengan perlahan. Dokter dapat pula terus melakukan pemeriksaan fisik sambil bertanya tentang hal-hal yang belum sempat ditanyakan. Kemudian dokter harus memjelaskan tentang tujuan dilakukannya pemeriksaan, biaya yang diperlukan, resep dan obat yang diberikan.

 

6. Mengarahkan Kembali Wawancara

Dalam kondisi apapun, dokter harus dapat mengendalikan wawancara. Bila wawancara tidak dapat dilakukan saat kunjungan tersebut, maka dokter dapat merencanakan untuk wawancara pada kunjungan berikutnya.

 

7. Konseling

Memberikan nasihat dan konseling tentang penyakit yang diderita pasien merupakan kewajiban dokter dalam melakukan tugasnya sehari-hari. Nasihat dapat diberikan saat wawancara, pemeriksaan fisik, ataupun saat akhir kunjungan. Dan hendaknya dokter menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh orang tua, karena orang tua ingin penjelasan yang mudah dimengerti tentang diagnosa penyakit anaknya dan juga tentang hal-hal yang menyangkut tata laksanaanya. Hindari konseling memalui telepon atau email bila dokter belum tahu benar tentang penyakit yang diderita pasien.

 

8. Penutup

Dalam melakukan wawancara medis dengan orang tau, dokter harus melakukan hal-hal berikut:

a.       Membuat ringkasan semua informasi yang telah diceritakan oleh orang tua pasien dan memasukkannya kedalam rekam medis anak tersebut.

b.      Jika ada, berikan materi edukasi yang terkait dengan sakit anaknya. Jelaskan karakteristik anak yang kita tangani dan prognosisnya.

c.       Tanyakan kepada anak yang sudah besar, orang tua, atau pengasuhnya tentang hal-hal yang belum jelas. Bila waktu terbatas, kita dapat membuatkan rencana kunjungan berikutnya.

 

C. Kesulitan Wawancara Dengan Orang Tua

Saat wawancara dokter akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan atau sangat lelah. Tidak seorangpun dokter yang menyatakan ia menyenangi semua pasiennya atau ia dapat berkomunikasi dengan lancer terhadap semua orang tua pasien. Adapun factor-faktor yang menyulitkan saat wawancara, yaitu:

1.      Hubungan pasien-dokter yang kurang baik

2.      Sikap dokter yang ragu-ragu

3.      Orang tua yang sangat khawatir

4.      Respon pengobatan yang lambat

5.      Keterbatasan dokter

6.      Kultur yang berbeda

7.      Sikap orang tua yang membebankan masalah ke dokter

8.      Sikap dokter yang terlalu cepat menilai orang

9.      Dokter yang terlalu mudah membuat diagnosis

10.  Masalah system yang berlaku di institusi kesehatan

Waktu yang terbatas

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan dan Saran

Wawancara yang baik oleh dokter gigi maka akan menghasilkan diagnosis yang baik pula. Memperkenalkan diri dan memberi salam akan menjadikan awal yang baik bagi proses wawancara. Pada saat wawancara, memberikan jeda waktu dan mempertahankan kontak mata juga sangat penting agar pasien lebih bebas menceritakan keluhannya dan agar dokter dapat memahami apa yang dirasakan pasien. Selama pasien bercerita tentang keluhannya, sebaiknya dokter tidak menginterupsi, menyela, atau menghakimi pasien, karena akan menyebabkan pasien berubah pikiran. Dengan menghargai pendapat dan menghargai harapan pasien, maka akan menunjukkan bahwa dokter bersikap empai terhadap pasien. Dalam pengambilan keputusan, sebaiknya dokter tidak hanya melibatkan orang tuanya saja, tapi juga melibatkan anak, sehingga anak tidak merasa asing dan menumbuhkan sikap percaya anak kepada dokter. Dokter hendaknya tidak mendominasi pembicaraan saat wawancara, melainkan harus menuntun jalannya wawancara agar tidak keluar dari tujuan semula, dan juga melibatkan orang tua sehingga menghasilkan keputusan bersama. Penggunaan istilah medis dalam wawancara dan memberikan informasi cenderung kurang bermanfaat, karena akan mengakibatkan pasien kurang memahami akan sakitnya, dan hanya akan menimbulkan kebingungan pada pasien. Kemudian dengan adanya jalinan interaksi yang baik antara dokter dan pasien, maka akan memperlancar perawatan dan kunjungan-kunjungan berikutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Soetjiningsih, ed. Modul Komunikasi Pasien-Dokter. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008: 80-8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s