KLASIFIKASI TINGKAH LAKU ANAK MENURUT FRANKL DAN WRIGHT

BLISA NOVERTASARI

MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA 2010

 

PENDAHULUAN

Tingkah laku setiap orang berbeda-beda. Selain faktor lingkungan, umur juga dapat menyebabkan terjadinya perbedaan tingkah laku setiap orang. Dalam keadaan normal, perbedaan seorang anak dengan orang dewasa yaitu perilaku, baik perkembangan fisik, psikis maupun kecerdasannya. Kalau orang dewasa perkembangannya sudah mencapai titik optimal/matang sedangkan pada anak-anak masih dalam proses dan selalu berubah sesuai dengan tingkat usia. Perkembangan tingkah laku anak ini berlangsung menurut uraian atau tahapan yang beraturan sesuai dengan bertambahnya umur.

Untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam merawat gigi pada anak-anak, maka seorang dokter gigi perlu mengetahui dan memahami tingkah laku anak tersebut, Dokter gigi harus mampu memahami pola perkembangan tingkah laku anak sesuai dengan usia anak, bukan anak yang menyesuaikan diri dengan dokter gigi.

Tingkah laku dan sikap tiap anak berbeda-beda, termasuk pandangan mereka terhadap seorang dokter gigi. Perbedaan-perbedaan tingkah laku tersebut dapat dikelompokkan atau diklasifikasikan menurut jenis dan karakternya, sehingga mempermudah dokter gigi dalam mengambil sikap saat melakukan tindakan medis. Dengan diadakannya klasifikasi tingkah laku anak, bertujuan agar dokter gigi mengetahui cara pendekatan yang sesuai untuk mengatasi tingkah laku anak tersebut. Berkomunikasi dengan anak merupakan kunci utama untuk penanggulangan perilaku anak. Kunci keberhasilan dokter gigi dalam menaggulangi pasien anak adalah pada kemampuannya untuk berkomunikasi dengan sang anak dan menanamkan kepercayaan diri pada anak tersebut. Oleh karena itu, seorang dokter gigi dituntut untuk dapat berkomunikasi secara efektif dan mengetahui tingkat perkembangan psikologi dalam diri anak.

A. KLASIFIKASI TINGKAH LAKU ANAK MENURUT FRANKL1

Suatu metode yang menilai tingkatan tingkah laku anak adalah skala 4 angka yang dikembangkan oleh Frankl, dimana hal ini menjadi salah satu metode pengklasifikasian tingkah laku anak dalam perawatan gigi. Tingkah laku anak dikategorikan menjadi 4 kategori sesuai kriteria berikut :

1.      Sangat negatif :

  • Anak menolak perawatan
  • Meronta-ronta dan membantah
  • Menangis keras dan terus-menerus
  • Menarik atau mengisolasi diri
  • Amat ketakutan yang merupakan tanda negatifisme

2.      Sedikit negatif :

  • Tindakan negatif minor
  • Anak enggan menerima perawatan gigi
  • Mencoba bertahan
  • Manyimpan rasa takut
  • Gugup atau menangis
  • Tidak kooperatif

3.      Sedikit positif :

  • Berhati-hati menerima perawatan
  • Sedikit segan bertanya
  • Tidak menolak petunjuk dokter gigi
  • Cukup bersedia bekerjasama dengan dokter gigi
  • Anak menerima perawatan

4.      Sangat positif :

  • Bersikap baik dengan dokter gigi
  • Anak gembira menerima perawatan
  • Tidak ada tanda-tanda takut
  • Tertarik dengan tindakan yang dilakukan dokter gigi
  • Tertarik dengan prosedur yang dilakukan
  • Banyak bertanya
  • Membuat kontak verbal yang baik

B. KLASIFIKASI TINGKAH LAKU ANAK MENURUT WRIGHT2

Metode pengklasifikasian tingkah laku anak yang lain dikembangkan oleh Wright, dimana Wright membagi beberapa kategori berdasarkan kooperatif anak, yaitu :

1.      Kooperatif, yaitu anak dapat diajak kerjasama.

Sikap anak yang dapat diajak kerjasama dengan dokter gigi, misalnya mau menerima perawatan gigi, tidak menangis atau bersikap tidak menyenangkan, tertarik dengan tindakan dokter gigi, dan sebagainya.

2.      Tidak kooperatif, dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

  • Anak tidak mampu menjadi kooperatif

Biasanya terjadi pada anak tuna mental kemampuan atau keterampilan yang terbatas sehingga kemampuan untuk kooperatif juga terbatas.

  • Anak belum mampu menjadi kooperatif

Biasanya terjadi pada anak balita atau anak yang berumur kurang dari 3 tahun. Hal ini disebabkan karena usianya yang terlalu muda dan belum dapat berkomunikasi. Namun, dengan adanya pertambahan usia diharapkan anak dapat menjadi kooperatif.

  • Anak mempunyai potensi menjadi kooperatif

Hal ini dapat terjadi bila adanya pendekatan serta komunikasi yang baik, sehingga anak yang mula-mula tidak kooperatif dapat berubah tingkah lakunya dan dapat dirawat.

Penampilan anak yang mempunyai potensi kooperatif, yaitu :

§  Tingkah laku tidak terkontrol (Uncontrolled Behavior)

–          Biasanya pada usia 3-6 tahun

–          Anak menangis, menendang, dan memukul

§  Tingkah laku melawan (Defiant Behavior)

–          Anak tetap menolak perawatan

–          Keberanian cukup, potensi menjadi kooperatif tinggi

§  Tingkah laku tegang (Tence Cooperative Behaviour)

–          Dahi dan tangan berkeringat

–          Suara bergetar dan pandangan mata selalu curiga terhadap gerakan dokter gigi

§  Tingkah pemalu (Timid Behavior)

–          Anak ragu-ragu dan suka menangis

–          Anak ingin selalu dipegang, berlindung dibalik ibu.

§  Tingkah cengeng (Whining Behavior)

–          Apapun yang dikerjakan dokter gigi, anak menangis terus

PEMBAHASAN

Secara garis besar, klasifikasi tingkah laku anak menurut Frankl dan Wright sama pembahasannya, yaitu sama-sama membahas tentang perilaku apa saja yang sering terjadi pada anak ketika berhadapan dengan dokter gigi. Namun, klasifikasi tingkah laku menurut Wright lebih spesifik cakupannya. Frankl cenderung lebih membahas tentang derajat tingkah lakunya yang dinilai dari segi positif dan negatif. Sedangkan Wright lebih membahas tentang sifat kooperatif anak yang disertai dengan penampilannya.

Beberapa ahli, seperti Rousseau dan Charles Darwin, juga melakukan penelitian terhadap tingkah laku anak yang bermanfaat untuk disiplin ilmu yang lain, namun hal ini kurang berguna untuk dokter gigi, karena penelitian mereka yang lebih cenderung dalam pencatatan harian segala tingkah laku bayi dan anak dibawah umur tiga tahun, yang meliputi perkembangan sensori, motoris, bahasa dan intelek anak.3 Pada usia ini anak belum mampu bersikap kooperatif dengan dokter gigi. Penelitian lain yang lebih bermanfaat untuk dokter gigi adalah penelitian Melamed yang mencatat sejumlah besar tingkah laku yang dianggap sebagai reaksi rasa takut terhadap perawatan gigi.1

Dengan adanya klasifikasi tingkah laku anak, maka seorang dokter gigi dapat memposisikan dirinya dalam melakukan pendekatan sebelum dilakukan perawat gigi anak. Hal ini menunjukkan bahwa sifat tiap anak berbeda-beda, sehingga dokter gigi perlu mengetahui dan memahami perkembangan tingkah laku dan kejiwaan anak.

Komunikasi dapat dijadikan media dalam pemahaman tingkah laku anak. Dokter gigi harus mampu berkomunikasi dengan anak berusia tiga tahun atau lebih. Kepercayaan pada diri anak tersebut dapat tertanam bila adanya komunikasi yang baik dalam penanggulangan pasien anak, sehingga dapat menumbuhkan sifat kooperatif amak. Komunikasi yang efektif dengan anak merupakan prinsip terhadap teknik penanggulangan tingkah laku anak yang lain.

Tingkah laku anak akan berkembang sejalan dengan perkembangan semua aspek dan fungsi yang ada dalam diri anak, termasuk perkembangan fisik, intelektual, dan sosial yang berlangsung secara serentak dan seimbang. Tingkah laku anak ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah perkembangan psikologi yang erat hubungannya dengan usaha untuk memiliki pengetahuan. Perkembangan psikologi merupakan hasil perpaduan antara kekuatan factor keturunan yang ada pada diri anak dan lingkungannya.2

Pengaruh orang tua juga dapat menjadi faktor pembentukan tingkah laku pada anak. Sikap orang tua pada anak dan pandangan mereka mengenai pendidikan dan disiplin anak sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku anak. Untuk mencapai keberhasilan dalam merawat gigi anak, dokter gigi perlu melihat pengaruh orang tua dan lingkungannya terhadap cara berpikir dan tingkah laku anak.pada waktu perawatan gigi. Selain itu, keadaan fisik juga mempengaruhi tingkah laku anak 2

Seorang dokter gigi perlu mengenal perkembangan psikologi anak terlebih dahulu sebelum menentukan jenis klasifikasi anak tersebut. Penting juga bagi seorang dokter gigi untuk mengenal batas-batas relatif perkembangan psikologi anak pada berbagai usia untuk dapat mendekati anak sehubungan perawatan gigi yang akan dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

1.     Kent GG, Blinkhorn AS. Pengelolaan Tingkah Laku Pasien Pada Praktik Dokter Gigi. Alih bahasa. Budiman JA. Jakarta:  Penerbit buku kedokteran EGC, 2002: 72

2.     Dalimunthe T, Hermina T, Roesnawi Y, Octiara E. Pedodonsia dasar. Medan: Percetakan USU, 2009: 4-17

3.     Gunarsa SD. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1997: 17

5 responses to “KLASIFIKASI TINGKAH LAKU ANAK MENURUT FRANKL DAN WRIGHT

    • insya Allah akurat.
      begitu menurut sumber yang saya dapat.
      tulisan ini juga disertai daftar pustaka yang saya jadikan sebagai referensi,
      jadi bila kurang jelas dapat dibaca pada sumber yang tertera.
      sebelumnya terima kasih telah membaca blog saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s