FILSAFAT (Edisi 1)

BLISA NOVERTASARI .S

MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA 2010

 

PENDAHULUAN

Berfikir merupakan hal yang lazim dilakukan oleh semua orang, tidak hanya dari kalangan tertentu saja, tapi semua kalangan masyarakat. Tapi tidak semua dari mereka yang berfikir filsafat dalam kehidupan sehari-harinya. Berfikir filsafat sangatlah penting untuk semua orang dalam rangka menjalani aktivitas sehari-hari, atau untuk mencari solusi bagi sebuah permasalahan. Jika ditelaah secara mendalam, begitu banyak manfaat, serta pertanyaan-pertanyaan yang mungkin orang lain tidak pernah memikirkan jawabannya. Karena filsafat merupakan induk dari semua ilmu. Beberapa manfaat mahasiswa berfikir filsafat, yaitu mengajarkan cara berpikir kritis, sebagai dasar dalam mengambil keputusan, menggunakan akal secara proporsional, membuka wawasan berpikir menuju kearah penghayatan, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya mengapa setiap mahasiswa diharapkan untuk selalu berfikir filsafat kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun ia berada. Apalagi seorang dokter yang harus selalu berfikir filsafat radikal, universal, konseptual, koheren/konsisten, dan sistematis dalam menghadapi setiap masalah dan keluhan pasien.

Berfilsafat itu berarti berpikir, tapi berpikir itu tidak berarti berfilsafat. Hal ini disebabkan oleh berfilsafat berarti berpikir artinya dengan bermakna dalam arti berpikir itu ada manfaat, makna, dan tujuannya, sehingga mudah untuk direalisasikan dari berpikir itu karena sudah ada acuan dan tujuan yang pasti/sudah ada planning dan contohnya, dan yang paling utama hasil dari berpikir itu bermanfaat bagi orang banyak, tapi berpikir tidak berarti berfilsafat, karena isi dari berpikir itu belum tentu bermakna atau mempunyai tujuan yang jelas atau mungkin hanya khayalan saja. Filsafat membawa kita berpikir secara mendalam, maksudnya untuk mencari kebenaran substansial atau kebenaran yang sebenarnya dan mempertimbangkan semua aspek, serta menuntun kita untuk mendapatkan pemahaman yang lengkap.

 

A. Pengertian Filsafat

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.

Beberapa define Filsafat dari filsuf barat dan timur, yaitu:

1. Plato (427SM-347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli)

2. Aristoteles (384 SM-322 SM) mengatakan: Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda)

3. Marcus Tullius Cicero (106 SM-43 SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.

4. Al-Farabi (meninggal 950 SM), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan: filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam manjud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

5. Prof, Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal, artinya mulai dari radikalnya suatu gejala, dari akarnya suatu masalah yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan yang universal.

 

 

B. Ciri-ciri Berpikir Filsafat

Orang yang berpikir filsafat paling tidak harus mengindahkan ciri-ciri berpikir sebagai berikut:

1. Berpikir filsafat Radikal. Yaitu berpikir sampai keakar-akarnya, sampai pada hakekat atau sustansi, esensi yang dipikirkan. Sifat filsafat adalah radikal atau mendasar, bukan sekedar mengetahui mengapa sesuatu menjadi demikian, melainkan apa sebenarnya sesuatu itu, apa maknanya.

Misalnya seseorang yang sakit kepala datang ke seorang dokter. Jika dokter tersebut berpikir filsafat radikal, maka ia akan mencari tau apa penyebabnya, sudah berapa lama sakitnya, intensitas sakit kepala, apakah sakit kepala karena stress atau alergi makanan, apakah ada alergi obat, apakah ada pengaruhnya terhadap organ tubuh yang lain, dan sebagainya.

2. Berpikir filsafat Universal. Yaitu berpikir kefilsafatan sebagaimana pengalaman umumnya. Misalnya melakukan penalaran dengan menggunakan rasio atau empirisnya, bukan menggunakan intuisinya. Sebab, orang yang dapat memperoleh kebenaran dengan menggunakan intuisinya tidaklah umum di dunia ini. Hanya orang tertentu saja.

Misalnya kebanyakan masyarakat yang lebih memilih rumah sakit terkenal, karena biayanya mahal, dan menganggap biaya yang mahal itu pasti memiliki pelayanan yang bagus, serta berkualitas baik.

3. Berpikir filsafat Konseptual. Yaitu dapat berpikir melampaui batas pengalaman sehari-hari manusia, sehingga menghasilkan pemikiran baru yang terkonsep.

Misalnya rumah sakit yang merupak suatu konsep dapat diuraikan menjadi rumah sakit umum, rumah sakit swasta, rumah sakit jiwa, rumah sakit bersalin, dan sebagainya.

4. Berpikir filsafat Koheren dan Konsisten. Yaitu berpikir kefilsafatan harus sesuai dengan kaedah berpikir (logis) pada umumnya dan adanya saling kait-mait antara satu konsep dengan konsep lainnya.

Misalnya pasien yang sakit akan pergi ke dokter, obat yang diresepkan sesuai dengan penyakit pasien, dokter bekerja di rumah sakit, dan sebagainya.

5. Berpikir filsafat Sistematis. Yaitu dalam berpikir kefilsafatan antara satu konsep dengan konsep yang lain memiliki keterkaitan berdasarkan azas keteraturan untuk mengarah suatu tujuan tertentu.

Misalnya sebelum melakukan tindakan medis terhadap pasien yang sakit kepala, seorang dokter tidak hanya memerika kepalanya, tapi juga tekanan darahnya, denyut jantungnya, memerika apakan pasien tersebut memiki alergi obat, dan sebagainya.

 

Berfilsafat berarti berpikir, tapi berpikir itu tidak berarti berfilsafat, karena berfilsafat berarti berpikir itu artinya berpikir yang memiliki manfaat, makna dan tujuannya, sudah ada acuan dan tujuan yang pasti dan ada kontrolnya, dan yang paling utama hasil berpikir itu bermanfaat bagi orang banyak. Tapi berpikir tidak berarti berfilsafat, karena isi dari berpikir itu belum tentu bermakna atau mempunyai tujuan yang jelas atau mungkin hanya khayalan saja.

 

C. Bidang Telaah Filsafat3

Filsafat menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai sebagai fungsinya sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok, terjawab msalah yang satu diapun mulai merambah.

 

C. Cabang-cabang Filsafat

Dari beberapa pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa filsafat dalam coraknya yang baru ini memiliki beberapa cabang, yaitu:

1. Metafisika, yaitu filsafat tentang hakikat yang ada dibalik fisika, hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman manusia.

2. Logika, yaitu filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah

3. Etika, yaitu filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk.

4. Estetika, yaitu filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek.

5. Epistomologi, yaitu filsafat tentang ilmu pengetahuan.

6. Fisafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat sejarah,  filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s