HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT PERIODONTAL DENGAN DIABETES MELITUS

BLISA NOVERTASARI .S

MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA 2010

 

Abstract

Diabetes mellitus is a disease in which the concentration of glucose (simple sugar) in the blood is high because the body can not release or use insulin adequately. Periodontal disease is a multi-factorial disease with a major cause of anaerobic gram-negative bacteria as well as the disruption of the systemic disorders and immunological disorders. Periodontitis is one manifestation of diabetes mellitus with symptoms of periodontal pocket, wobbly teeth and bone resorption. Diabetes Mellitus (DM) is a predisposing factor to the onset of infection. In the mouth of DM can increase the number of bacteria that cause abnormalities in the periodontal tissue, and if continued could lead to tooth becomes wobbly. Patients with diabetes, the risk of getting infected with the periodontal tissue to reach even 2-4 times greater than non-diabetic patients. Chronic periodontal infection causes systemic inflammation which will increase insulin resistance and hyperglycemia. Insulin resistance inhibits optimal glycemic control and increase the risk of heart disease. writing this article aims to show how important maintaining oral health for people with diabetes mellitus.

Keywords : periodontitis, diabetes mellitus, periodontitis and diabetes mellitus interrelationship

 

PENDAHULUAN

Diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya dengan karakteristik hiperglikemia. Diabetes melitus dapat dibedakan menjadi 2 tipe,  yaitu dimana tipe 1 mempunyai latar belakang kelainan berupa kurangnya insulin secara absolute akibat proses autoimun, sedangkan tipe 2 mempunyai latar belakang resistensi insulin.1

Akhir-akhir ini beberapa pakar telah mencoba mengungkapkan hubungan antara periodontitis dengan diabetes mellitus, yang difokuskan dan diutamakan pada pengaruh adanya diabetes mellitus terhadap kesehatan periodontal dan pengaruh penyakit periodontal terhadap kontrol gula dalam darah pasien diabetik.2 Hal ini bertujuan agar pasien diabetes melitus lebih memperhatikan kebersihan dan kesehatan giginya agar dapat terhindar dari keparahan penyakit periodontal.

Pada uraian berikut akan dikemukakan mengenai etiologi penyakit periodontal, peranan penyakit diabetes melitus pada penyakit periodontal, pengaruh penyakit periodontal terhadap diabetes melitus, dan patogenesis diabetes melitus pada penyakit periodontal.

 

ETIOLOGI PENYAKIT PERIODONTAL

Penyakit periodontal dapat diartikan sebagai suatu proses patologis yang mengenai jaringan periodontal. Sebagian besar penyakit periodontal inflamatif disebabkan oleh infeksi bakteri. Walaupun faktor-faktor lain dapat juga memengaruhi jaringan periodontal, penyebab utama penyakit periodontal adalah mikroorganisme yang berkumpul di permukaan gigi (plak bakteri dan produk-produk yang dihasilkannya) dan membentuk koloni. Beberapa kelainan sistemik dapat berpengaruh buruk terhadap jaringan periodontal, tetapi faktor sistemik semata tanpa adanya plak bakteri tidak dapat menjadi pemicu terjadinya periodontitis. Lagi pula, ada beberapa faktor lokal yang bersama dengan plak bakteri menyebabkan penyakit kronis jaringan periodontal. Dua faktor yang mungkin menjadi pemicu terjadinya penyakit periodontal tanpa adanya plak bakteri adalah malignansi dan trauma oklusi primer.3

Etiologi  periodontitis  yang utama  berhubungan  dengan  mikro-organisme  dan produk-produknya  yang  ditemukan  pada  plak  supra  dan  sub-gingiva.  Pencetus  yang umum atau faktor etiologi kedua  yang menyumbang terhadap akumulasi, retensi dan maturasi plak gigi adalah kalkulus supra dan sub-gingiva, tepi gingiva yang menggantung
dan restorasi gigi yang over-contoure, dapat menimbulkan impaksi makanan dan menambah kedalaman probing. Faktor-faktor sistemik dapat mempengaruhi keparahan, karena mengubah respons jaringan terhadap bakteri.4

Etiologi penyakit periodontal sangat kompleks. Para ahli mengemukakan bahwa etiologi penyakit periodontal dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu faktor lokal dan faktor sistemik, faktor lokal dan faktor sistemik sangat erat hubungannya dan berperan sebagai penyebab terjadinya kerusakan jaringan periodontal. Tapi pada umumnya, penyebab utama penyakit periodontal adalah faktor lokal. Keadaan ini dapat diperparah oleh keadaan sistemik yang kurang menguntungkan, yang memungkinkan terjadinya keadaan yang progresif.

Faktor lokal adalah faktor yang berpengaruh langsung pada jaringan periodonsium; dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor iritasi lokal dan fungsi lokal. Yang dimaksud dengan faktor lokal adalah plak bakteri sebagai penyebab utama. Sedangkan faktor-faktor lainnya antara lain adalah bentuk gigi yang kurang baik dan letak gigi yang tidak teratur, maloklusi, malfungsi gigi, restorasi yang menggantung dan bruksisme.

Faktor sistemik sebagai penyebab penyakit periodontal antara lain adalah pengaruh hormonal pada masa pubertas, kehamilan, menopause, defisiensi vitamin, diabetes mellitus dan lain-lain.

Kenyataan yang menunjukkan adanya hubungan yang erat antara faktor lokal dan faktor sistemik, yaitu adanya penyakit diabetes mellitus yang dapat mengakibatkan meningkatnya karies gigi dan memperberat gingivitis maupun penyakit periodontal. Sebaliknya infeksi gigi dan jaringan sekitarnya dapat mempengaruhi stabilitas kadar gula darah. Pernah dilaporkan bahwa kerusaakan jaringan periodontal pada penderita diabetes melitus lebih parah dibandingkan dengan yang bukan penderita diabetes mellitus, meskipun pada kelompok bukan penderita diabetes mellitus memiliki penumpukan plak yang lebih banyak dibandingkan pada kelompok penderita diabetes mellitus.5 Penumpukan plak itu akan terbentuk kantong diantara gigi dan gusi dan meluas ke bawah diantara akar gigi dan tulang dibawahnya. Kantong ini mengumpulkan plak dalam suatu lingkungan bebas oksigen, sehingga mempermudah pertumbuhan bakteri. Jika keadaan ini terus berlanjut, pada akhirnya banyak tulang rahang di dekat kantong yang dirusak sehingga menyebabkan lepasnya gigi.

Pada orang-orang yang memiliki jumlah tartar yang sama memiliki kecepatan pertumbuhan periodontitis yang berbeda-beda. Hal ini mungkin dikarenakan plak dari masing-masing orang tersebut mengandung jenis dan jumlah bakteri yang berbeda, dan juga karena respon yang berbeda terhadap bakteri. Beberapa keadaan medis yang bisa mempermudah terjadinya periodontitis:

  • diabetes melitus
  • sindrom Down
  • penyakit Crohn
  • kekurangan sel darah putih
  • AIDS6

 

PERANAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA PENYAKIT PERIODONTAL

Telah  banyak  dilakukan penelitian  dan  perdebatan.  Oliver  dan  Ternoven  menyimpulkan bahwa pernyataan  diabetes  menambah  risiko  terjadinya  penyakit  periodontal  terlalu  dilebih-lebihkan.

Sedangkan Loe tahun 1993 menyatakan bahwa penyakit periodontal merupakan komplikasi ke-enam. Penelitian lain  melaporkan  hanya diabetes melitus yang merupakan penyakit sistemik yang secara positif berhubungan dengan attachment loss (Odds Ratio=2,32).  Sebenarnya pada tahun tahun 1970 telah diperoleh kesimpulan bahwa skor penyakit gingival dan periodontal lebih tinggi seccara signifikans pada pasien diabetic dibandingkan non-diabetik, yang mana hal ini didapat dari laporan hasil penelitian longitudinal selam 2 tahun.6

Dari keseluruhan hasil penelitian diatas, menunjukkan bahwa diabetes mellitus yang disertai oleh beberapa perubahan pada periodonsium berpotensi dan berperan dalam terjadinya periodontitis kronis.

Salah satu hipotesa yang dikemukakan berkaitan dengan hubungan antara diabetes melitus dan penyakit periodontal. Salah satu hipotesa menyatakan bahwa respon sitokin yang diperantarai oleh AGE (Advance Glycation End products) dapat diperhebat oleh sintesa dan sekresi sitokin yang diperantarai oleh infeksi periodontal, dan begitu juga sebaliknya.2 AGE merupakan senyawa yang berasal dari glukosa, secara kimiawi irreversible, dan terbentuk secara perlahan-lahan, tetapi terus-menerus sejalan dengan peningkatan kadar glukosa darah.2

Pada penderita diabetes mellitus, dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah dan cairan gingival berarti juga merubah lingkungan mikroflora, menginduksi perubahan bakteri secara kualitatif. Sehingga perubahan tersebut mengarah pada penyakit periodontal yang berat, dan dapat teramati pada penderita diabetes melitus dengan kontrol buruk. Berkaitan dengan jaringan periodontal, hiperglikemia kronik penderita diabetes melitus  akan meningkatkan aktivitas kolagenase, dan menurunkan sintesis kolagen. Enzim kolagenase menguraikan kolagen, sehingga ligament periodontal rusak, dan gigi menjadi goyah. Jaringan periodontal akan menjadi kuat kembali apabila diabetes melitus diobati dengan baik, serta gigi goyah pada pasien diabetes melitus  jangan buru-buru dicabut.7

Secara klinis kondisi periodonsium penderita diabetes dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang dikemukakan diatas. Diabetes yang tidak terkontrol atau kurang baik kontrolnya disertai oleh peningkatan kerentanan terhadap infeksi, termasuk periodontitis kronis. Periodontitis kronis lebih sering terjadi dan lebih parah pada individu diabetik yang disertai komplikasi sistemik yang lebih parah.2

Hubungan antara periodontitis kronis dengan diabetes mellitus tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2 telah secara khusus diamati pada beberapa penelitian. Dilaporkan bahwa meningakt resikonya menderita periodontitis kronis pada penderita diabetes mellitus tipe 1 sejalan dengan pertambahan usia, dan keparahan periodontitis kronis meningkat sejalan dengan meningkatnya durasi diabetes. Pada pasien diabetik dewasa dengan diabetes yang tidak terkontrol baik akan mengalami kehilangan tulang dan kehilangan perlekatan yang lebih banyak dibandingkan pasien dengan diabetes yang terkontrol baik, meskipun kemampuan mereka dalam memelihara kebersihan mulutnya adalah setara.2

Semua hal yang dikemukakan diatas secara jelas menunjukkan hubungan serta peranan diabetes mellitus terhadap terjadinya periodontitis kronis. Dengan demikian penyakit periodontal adalah salah satu komplikasi diabetes mellitus yang harus diperhatikan.

 

PENGARUH PENYAKIT PERIODONTAL TERHADAP DIABETES MELITUS

Sintesa dan sekresi sitokin yang berasal dari interaksi AGE dengan RAGE dapat diperhebat oleh sintesa dan sekresi sitokin akibat infeksi yang berasal dari periodontitis, begitu juga sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan periodontitis dengan diabetes mellitus berlangsung dalam dua arah. Dengan demikian penyakit periodontal yang berupa inflamasi kronis dapat memperparah status penderita diabetes mellitus sehingga menjurus ke arah komplikasi yang lebih berat.2

Peningkatan konsentrasi hemoglobin terglikosilasi diduga disebabkan oleh periodontitis kronis yang parah pada penderita diabetes mellitus. Infeksi yang berasal dari periodontitis selain meningkatkan produksi sitokin, diduga dapat pula meningkatkan resistensi insulin yang pada akhirnya memperburuk kontrol glikemik penderita diabetes yang juga menderita periodontitis di mulutnya. Hal ini diperkuat dengan adanya penelitian berupa penelitian retrospektif terhadap pasien diabetes mellitus tipe 2 menunjukkan bahwa level HbA1c signifikan meningkat pada pasien dengan periodontitis yang parah.2

 

PATOGENESIS DIABETES MELITUS PADA PENYAKIT PERIODONTAL6

Beberapa pakar mengusulkan peruntuk menjelaskan lebih parahnya penyakit periodontal pada pasien diabetic, beberapa pakar mengusulkan peranan beberapa faktor. Pada studi awal ditemukan membran basalis kapiler Gingival yang lebih lebar pada diabetik dibandingkan pada non-diabetik. Perbedaan yang ditemukan pada membran dasar diabetik meliputi penebalan deposit periendotelial dan perubahan pada lebarnya. Perubahan ini berperan pada perubahan nutrisi dan penyembuhan jaringan. Pada studi lain mengusulkan kerusakan kemotaksis neutrofil pada diabetik yang dapat membuat pasien tersebut rentan terhadap infeksi, termasuk infeksi Mikroflora yang dominan pada lesi periodontal pasien diabetik tipe 2. Terjadinya kerentanan penderita diabetes melitus untuk menderita penyakit periodontal dapat dijelaskan pada berbagai mekanisme, yang meliputi :

1. Perubahan vaskular. Terjadi penebalan membran basalis dari dinding vaskular sehingga akan mengurangi migrasi leukosit, difusi oksigen dan eliminasi sampah metabolit yang bertambah intensitasnya sesuai dengan kontrol metabolik dan durasi yang lama dari penyakit diabetesnya sendiri.

2. Perubahan mikroflora terjadi karena pada penderita diabetik, pada daerah sulkus gingivanya akan tercipta lingkungan yang baik untuk berkembang-biaknya berbagai mikroba.

3.  Disfungsi neutrofil, melalui terjadinya depresi kemotaksis maupun fagositosis dalam repons imun.

4. Terjadinya perubahan metabolisme kolagen gingiva, yaitu melalui berkurangnya sintesis kolagen, berkurangnya perkembangan dan proliferasi sel, berkurangnya produksi matriks tulang, bertambahnya kolagenase gingiva dan terjadinya gradasi kolagen yang baru terbentuk.

5.  Genetik, diduga penyakit periodontal berhubungan dengan HLA, terutama DR3 dan DR4 melalui mekanisme molekul-molekul sel- sel antigen pada darah tepi mungkin memberi sinyal bertambahnya kerentanan terhadap periodontitis.

 

KESIMPULAN

Terdapat hubungan antara diabetes melitus dengan penyakit periodontal. Hal ini diperkuat dengan adanya fakta bahwa diabetes melitus dapat mengakibatkan meningkatnya karies, memperberat gingivitis, maupun penyakit periodontal, sebaliknya infeksi gigi dan jaringan sekitarnya dapat mempengaruhi stabilitas kadar gula darah.

Penyakit diabetes melitus bila tidak dikontrol dengan baik, maka akan menimbulkan kerusakan pada tubuh secara umum maupun dalam rongga mulut. Berawal dari system ketahanan tubuh yang menurun, penyakit diabetes mellitus menyebabkan terurainya serat kolagen, pendukung utama jaringan periodontal. Kerusakan kolagen berdampak pada goyahnya gigi karena kehilangan hubungan dengan prosesus alveolaris. Oleh karena itu diabetes melitus perlu diwaspadai oleh dokter gigi sejak awal, bahkan sebelum memberikan pelayanan kepada pasien.

Sebagai akibat dari adanya hubungan antara diabetes melitus dengan penyakit periodontal, peranan serta keterlibatan dokter gigi dalam menangani pasien diabetes melitus perlu ditingkatkan. Selain itu, dokter gigi juga dituntut untuk meningkatkan profesionalitas dengan lebih aktif memposisikan diri sebagai mitra dokter umum atau dokter spesialis dalam penanganan pasien diabetes mellitus.

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaban S. Pengembangan Model Pengendalian Kejadian Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 Di Kota Sibolga Tahun 2005. Tesis. Medan: Percetakan USU. 2005: 8

2.  Daliemunthe SH. Hubungan Timbal Balik Antara Periodontitis dengan Diabetes Melitus. Dentika Dent J 2003; 8(2): 120-25

3. Vernino AR. Etiologi Penyakit Periodontal. Dalam: ed. Amaliya, Juwono L. Silabus Periodonti. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2004: 13

4. Setyawan H. Penyakit Periodontal Pada Penderita Diabetes Melitus. 20 Mei 2008. <http://yureyco87.wordpress.com/2008/05/20/penyakit-periodontal-pada-penderita/>. (25 September 2010)

5. Agtini MD. Epidemiologi dan Etiologi Penyakit Periodontal. <http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/13_EpidemiologidanEtiologiPenyakit.pdf/13_EpidemiologidanEtiologiPenyakit.html>. (25 September 2010)

6. Henny ME. Hubungan Diabetes Melitus dengan Periodontitis. <http://www.scribd.com/doc/36258966/epulis>. (25 September 2010)

7. Praptiwi. Diabetes Melitus dan Kerusakan Jaringan Periodontal. J PDGI 2006; 56(3): 148

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s